buku Jiwa Muhammad, bagian 6 (tamat)

23 Januari 2009

Sudahlah lazim bahwa segala sesuatu itu selalu berkurang terus, demikianlah memang sudah sifatnya, karena barang siapa yang sudah sanggup sampai pada Tuhannya sebenarnya segala sesuatu tadi tak perlu lagi, sebab sudah tercukupi dalam Tuhan semua.

Demikianpun buku ini adalah merupakan rahmat pula bagi yang telah sampai tapi barang siapa yang belum akan bisa menjadi laknat dan bahkan sudah selayaknya dibakar saja sebab memang tidak perlu dan bahkan menyesatkan pula dari jalan yang lurus, yakni jalan yang sebenarnya pendek sekali dalam diri sendiri, karenanya tidaklah usah memakai buku dan sudah tercukupi yakni manakala Tuhan bermau demikian. Tetapi rupanya kemauan Tuhan adalah lain yakni dengan cara mengirim buku-buku tuntunan agar supaya manusia sanggup berwawancara sendiri atau meraih wahyu sendiri sekuat berserahnya.

Demikianlah maka buku ini adalah sebagai contoh dari pada hasil penyerahan itu. Barang siapa yang diberi berlebih hendaklah melengkapkannya, karena tiadalah pula salahnya andaikata anda sendiri berusaha mencapai yang demikian itu yakni dengan cara serah diri mutlak.

Manakala tidak niscaya masih sia-sia terus. Karenanya sudahlah selayaknya bahwa kini mesti segera diakhiri zaman itu agar supaya benar-benar manusia kembali ke Tuhan jangan terganggu-ganggu lagi. Maka dengan ini sebenarnya sudahlah terintis suatu jalan kembali ke Tuhan dan barang siapa yang masih ragu niscaya ketinggalan sendiri. Tetapi itupun sepanjang kehendak Tuhan Tuhan juga, karenanya biarkanlah saja segalanya berlalu dan cukuplah manakala kita berserah diri sehingga hanya Tuhan sendirilah yang mewakilinya. Demikianlah letak soal yang sebenarnya yakni benar benar terletak pada Tuhan sendiri. Manakala segala soal sudah kita kembalikan kepada Nya maka benar-benarlah akhir zaman mulai dan cukuplah sudah Tuhan menjadi tujuan.

Kini kembalilah sebentar kepada soal takdir, maka itu adalah diperlukan bagi manusia biasa agar sanggup memahami bahwa sebenarnya seluruh alam ini adalah suatu kematian yang besar dan yang sejati mestilah dicari lagi. Maka dengan demikian sangguplah ia meninggalkan dunia ini dengan segala ikhtiarnya itu sendiri termasuk pula dalam takdir.

Maka kesia-siaan selama ini akan terhapus dan mulailah manusia mempergunakan cahaya Illahi bukan lagi hanya fikiran biasa yang daerahnya teramat sempit lagi palsu. Maka Alam kejiwaan adalah menjadi tujuan setelah keduniaan ini selesai. Maka tiadalah habis-habisnya soal kejiwaan ini manakala diurai maka mestilah rajin pula membaca disana-sini walaupun buku yang tersendiri tersedia pula.

Maka alangkah lamanya manusia ini menyadari yang demikian itu sehingga terpaksa berkali-kali hidup baru sanggup menerima. Maka apalah salahnya kami jelaskan pula disini bahwa sebenarnya memanglah pengetahuan bagi ummat Muhammad tentang kerukhanian itu baru sedikit sekali yakni Alam kejiwaan yang bebas sudah dari pada hidup dan mati dimana harus pula dijelajah sebelum mati. Sebab mati adalah suatu perobahan mutu dunia menjadi lebih sejati dimana haruslah dialami sewaktu hidup ini benar-benar maka serenta mati akan mengalami sebagai mutu disewaktu hidup tadi.

Demikianlah maka barang siapa yang “ b u t a “ sewaktu hidup ini maka “ b u t a “ pula sesudah mati kecuali manakala Tuhan mau yang bagaimanapun jadi. Sebab segalanya tergantung Tuhan sendiri yang membikin hukum sedemikian yakni manakala manusia ini sudah sanggup mempersamakan hidup dan mati maka barulah bisa menguak tabir kegaiban.

Oleh sebab itu janganlah terpenjara dalam hukum-hukum dunia ini saja yang selaras memang dengan bujukan Iblis, tetapi hendaklah segera kembali ke FIRDAUS lagi jangan lagi mau ditipu-tipu. Sebab sebenarnya Adam dalam surga itu adalah sama juga ada maupun tidak ada, belum maupun sudah, dikarenakan memang hukumnya memang lain dengan dunia ini, karenanya berusahalah menjadi AWWALUL MUSLIMIN, dengan sendirinya Adam dalam surga sudah pula berada pada anda.

Sudahlah selayaknya kini kita tidak lagi berfaham sempit yakni hanya mengandalkan saja pada benar dan salah, sebab itu hanyalah hasil fikiran dimana sittan menjadi komandannya. Karenanya SERAH DIRI adalah menyerahkan sittan itu kembali kedalam Tuhan sehingga hanya Tuhan sajalah yang kita percaya dan selainnya hapus kedalamnya juga. Demikianlah maka sebenarnya buku ini merupakan ajakan pula kembali ke Tuhan sebab zaman sudah mulai berakhir dan Jin sittan maupun Iblis kita giring pula kembali sebab sudah waktunya manakala akhir zaman mulai mereka mesti segera pula pulang kandang sebab janjinya memang hanya sampai sekian.

Jadi sebenarnya bukanlah keanehan lagi manakala kita kembali kedalam Tuhan sebab memang demikianlah seharusnya jalan yang lurus yakni bahwa kita ini semuanya kepunyaan Tuhan dan kesanalah harus kembali. Manakala masih menuju kepada yang selainnya niscaya masih keliru, itulah sebabnya maka barang siapa yang mengambil jalan selain serah diri, niscaya Tuhan tiada menerimanya, sebab memang demikianlah seharusnya yakni manusia ini tidak lagi ada dan hanya Tuhanlah yang ada. Maka sudahlah sewajarnya kembali ke Tuhan menjadi ke Tuhan menjadi tujuan dan tidaklah dapat ditunda tunda lagi, sebab faham memang sudah sampai. Manakala masih terus memperturutkan sittan yakni kecerdasan sebagai manusia biasa yang hidup di dunia maka terpaksa Alam dunia ini ada tak bisa digantikan dengan surga, sebab memang lain mutunya. Demikianlah keadaannya hendaklah dimaklumi.

Kini kembali kepada soal diri kami. Maka demi kehendak Tuhan janganlah dianggap ada nanti menjadi lebih keliru lagi, sedangpun buku ini juga harus dianggap sepi. Demikianlah memang aneh kedengarannya bahwa ada itu sama dengan tidak ada dimana semata-mata memang hanya tergantung pada Tuhan sendiri. Karenanya pula bukan mustahil nanti anda juga dapat menerima wahyu sendiri sebab memang demikianlah kehendak Tuhan bahwa Nabi dan Rasul sudah diakhiri dan cukuplah Tuhan sebagai pengganti.
(TAMAT)

buku Jiwa Muhammad, Bagian 5

23 Januari 2009

Sebenarnya jiwa Muhammad itu adalah jiwa yang sangat sederhana sifatnya yakni hanya dua sifat saja yang mempengaruhinya, yakni BENAR dan SALAH. Lain dengan JIWA RUSTAMAJI yang tidak mempunyai sifat sama sekali sebab sudah sanggup berpadu dengan Tuhannya. Apakah ia mau ada maupun tidak mau berujud kasar maupun halus, mau berdiri sendiri ataukah didirikan sudahlah tidak ada bedanya. Juga dikarenakan hal-hal yang tidak bisa diterangkan maka sebenarnya samalah halnya dengan menerangkan Tuhan sendiri.

Tuhan adalah sejatinya kebutuhan sedangpun Rustamaji bukan, tetapi juga ya. Sebab ya dan bukan itu adalah sama, Tuhan dan bukan Tuhan sama juga Tuhan semua. TAK SATUPUN YANG ADA MELAINKAN TUHAN JUGA. Itulah sebabnya maka Rustamaji itu tidak ada tetapi ada juga yakni sepanjang kemauan Tuhan sendiri.

Bukanlah maksud kami berpropaganda tentang diri kami, tetapi Tuhan juga yang menulis ini, apakah Rustamaji bisa menulis ataukah tidak terserah Tuhan juga. Begitupun apakah anda bisa percaya atau tidak terserah Tuhan lagi.

Sebenarnya manusia haruslah hanya percaya kepada Tuhan saja jangan kepada Rustamaji jangan kepada diri sendiri, jangan kepada apa dan siapapun juga. Inilah dia jalan yang lurus, faham yang sebenarnya, oleh karenanya harus ditepati sebagaimana mestinya agar supaya jangan ada penyelewengan lagi.

Apakah sebab jiwa Rustamaji selalu disebut-sebut, adalah dikarenakan Tuhan juga yakni keharusan mutu yang terutama adalah tujuan dari pada segenap kehidupan ini, yakni kesempurnaan bahkan yang lebih lagi dari sempurna. Kalau ada sesuatu yang harus dituju dicari ditempuh Jiwa Rustamaji tiada lain. Oleh karenanya baik NUH baik WIYASA baik SUDJDJARI baik IBRAHIM adalah Jiwa Rustamaji juga pada masa masing-masing, begitupun Muhammad. Tetapi andaikata Jiwa Muhammad itu kita taruh di depan pada masa sekarang ini maka sendirinya akan menghalang-halangi pertemuan manusia dengan Tuhannya, begitupun Jiwa Rustamaji yang belum lenyap dalam Tuhannya akan mengganggu juga. Oleh sebab itu mestilah difahami benar-benar jangan ada Jiwa apapun juga yang mengaling-aling sehingga benar-benar manusia bisa lenyap ke dalam Tuhannya jangan hanya sekedar menghadap apalagi dari jauh dan masih teraling-aling pula dengan jiwa-jiwa yang lain walaupun Nabi walaupun Wali walaupun apa jua.

Sebenarnya andaikata manusia ini cukup cerdas maka dalam sekejap saja akan sanggup meloncat masuk dalam Tuhannya. Tetapi itu adalah mustahil pula. Dikarenakan hukum Tuhan yang selalu mengganggunya dengan beraneka ragam coba atau goda sehingga manusia tadi harus lenyap dulu dalam daerah Ketuhanan berlama-lama sehingga akhirnya sanggup atau mampu merasuk dalam jantung Nya. Tetapi Tuhan punya kuasa. Kalau dikehendaki yang bagaimanapun bisa jadi misalnya manusia biasa dalam sekejap bisa sanggup sempurna merasuk Tuhan sendiri. Tetapi yang demikian itu tidak pernah ada. Tuhan tak pernah punya kemauan begitu, sehingga walaupun jiwa itu istimewa seperti Muhammad misalnya masih harus hidup dua kali dalam dunia ini baru sanggup sempurna merasuk Tuhan sendiri. Tetapi andaikata ada kejadian kelak manusia yang lebih istimewa lagi sekali hidup bisa sempurna janganlah diherankan lagi, sebab semuanya itu sir Tuhan juga, kalau Tuhan mau segalanya terjadi juga. Demikianlah keadaannya, hendaklah dimaklumi.

Pada waktu Muhammad masih muda pernah ia kena coba mendapat gangguan dari JIN yakni Jin yang sebenarnya rasa perasaan yang nikmat juga. Ceritanya demikian : Alangkah enaknya andaikata saya pergi berfoya-foya seperti kebanyakan pemuda Arab ini, begitu fikirnya. Tetapi tiba-tiba baru saja dia dalam perjalanan sudah jatuh tertidur di tengah jalan, sehingga urunglah niatnya itu. Itulah suatu tanda bahwa keurungan itu adalah bukan sengajanya sendiri artinya andaikata dia tidak tertidur mestinya kesampaian juga. Tetapi itupun belum seberapa. Ada lagi cerita begini : Sewaktu Ka’bah rusak maka iapun kena coba pula yakni membikin akur golongan-golongan yang memperebutkan CHAJAR ASWAD pada tempatnya maka sudahlah sepantasnya bahwa mereka itu harus rukun dikarenakan bukan urusan golongan sendiri-sendiri melainkan kepentingan umat seluruhnya.

Alangkah senangnya Muhammad waktu mendapat giliran jaga Ka’bah yang sedang diperbaiki itu pada suatu malam mimpi bahwa Ka’bah tadi didatangi oleh manusia-manusia dari segenap penjuru bumi, sehingga beratus ribu, bahkan jutaan. Belumlah pernah ia melihat jemaah yang sebanyak itu, sehingga hampir-hampir tidak percaya apakah manusia itu banyaknya sampai sekian ? Maka iapun bangun dan melihat kesepian malam. Tiba-tiba iapun tertidur lagi dan terbangun pula sebab seseorang yang amat gagah berdiri di depannya menghunus pedang. Siapa penolongmu ? tanyanya. Muhammad sebenarnya gugup tetapi Tuhan menolongnya. Tuhan ! jawabnya tanpa sengaja. Maka orang yang gagah berpedang tadipun lenyaplah.

Jadi nyata sebenarnya bahwa jiwa Muhammad itu adalah masih bersih sangat sederhana belum banyak liku-likunya. Tetapi juga berarti masih tolol belum banyak pengalaman. Andaikata ada manusia yang ditodong seperti itu sekarang ini niscaya lain lagi jawabnya. Barangkali juga mati seketika sebab terkejut atau malahan bisa menyumpal yang akan membunuhnya itu dengan duit atau kata-kata yang manis, mungkin juga tidak dikenalnya lagi malu maupun rasa perasaan yang lain sehingga mau rasanya menjilati pantat si pembawa pedang tadi asal saja dirinya tidak dibunuh atau disakitinya. Andaikata ada manusia yang berbuat seperti Muhammad pada waktu itu, adalah itu suatu keadaan yang tidak normal lagi. Maka manusia akan memandangnya dia sebagai manusia yang istimewa mendapat restu pertolongan dari Tuhan dan bahkan dianggapnya keramat ataupun yang sebangsanya. Tetapi andaikata ada yang mengira bahwa jawab itu adalah memang sudah sewajarnya maka orang akan memandang itu gila, tidak normal lagi. Demikianlah anggapan orang sangatlah bermacam-macam dan bahkan bertolak belakang.

Andaikata keadaan itu dihadapkan pada manusia sempurna jaman sekarang niscaya lain lagi soalnya. Siapakah penolongmu ? maka jawabnya : saya ini ada saja tidak, apakah perlu ada pertolongan atau tidak bukan soal lagi, segalanya terserah Tuhan. Demikianlah keadaannya haraplah difahami, bahwa sebenarnya manusia sempurna itu sudah tidak butuh kepada pertolongan lagi segalanya sudah diserahkan kembali kepada Tuhannya sehingga segala kejadian itu sudah kemauan Tuhan sendiri tiada lain. Maka herankah anda andaikata ada manusia sempurna yang sudah tidak mau makan minum lagi, juga berpakaian pantas, juga berpekerti seperti orang kebanyakan ? Sebab apa yang dirasanya itu sudahlah lain. Apa yang dihadapi itu bukanlah dunia lagi, melainkan sudah Tuhan sendiri juga, jadi bahaya maupun bahagia itu sudah sama saja, tak ada bedanya kecuali manakala Tuhan mau yakni berkemauan yang lain dari pada biasa dikarenakan ada gunanya maupun tidak sama sekali. Sebab guna maupun tidak sudah sama saja. Jangankan yang berguna yang mudlaratpun ditempuhnya pula manakala Tuhan menyuruh. Itulah sebabnya maka IBRAHIM sampai pula menyembelih anaknya, juga Kidir yang ketemu MUSA tiada segan pula membunuh anak kecil maupun merusak perahu, dikarenakan memanglah sudah lain hukumnya, sudah keluar dari pada benar dan salah dan hanya menurut perintah Tuhan semata. Demikianlah dalil manusia sempurna hanya Tuhanlah yang ada tiada lain yang berbuat sak sir Nya.

Pada zaman dahulu kala manusia belum pernah mendapat perintah tentang adanya MANUSIA SEMPURNA sebagaimana yang termaktub dalam Qur’an maupun Injil, tapi ada pula tersebut dalam kitab-kitab yang dahulu misalnya dalam BAGAWAD GITA itu terang-terangan diujudkannya manusia sempurna itu yang berbentuk si SAMIAJI atau PUNTADEWA atau DARMA KUSUMA. Pada zaman wali yang sembilan yakni zaman Demak maka diujudkannya sebagai SITI DJENAR tetapi masih kurang tepat fahamnya sehingga malah membahayakan, dikarenakan memang belum saatnya manusia pada waktu itu kuat menerimanya, sehingga yang dianggap para wali itupun belum ada yang sanggup menerrima dengan benr-benar kecuali si KALIDJAGA walaupun baru seberapa.

Oleh karenanya sampai sekarang derajad yang bisa dicapai oleh para Wali-Wali itupun belum seberapa yakni antara LANGIT KETIGA sampai DUA PULUH LIMA itu bagi BIMA SAKTI kita ini, bagi galaksi yang lain ada aturan lain pula. Maka amatlah disayangkan bahwa para Wali tadi masih belum sanggup lenyap dalam Tuhannya malahan banyak pula yang menjadi sesat, menjadi penghalang bagi perkembangan iman manusia yang seharusnya semakin maju.

Demikianlah misalnya JIWA SUNAN GUNUNG JATI itu sebenarnya miring, masih menyimpang dari jalan yang lurus sehingga boleh disebut malahan sesat dikarenakan masih sangat cinta kepada sanjung puja dan kesaktian. Lain dengan Jiwa Muhammad walaupun sangat terpuji tetapi dia sendiri Jiwa Muhammad itu tidak mau dipuja-puja. Oleh karenanya segala puja-puji yang diadreskan padanya tiada sampai, yakni tiada menempel pada Jiwanya melainkan menjadi Muhammad palsu sendiri-sendiri. Tetapi bagi yang menelan puja maka puja itu menempel pada Jiwanya sehingga mengotori dan memberati untuk langsung menghadap Tuhannya, apapula masuk ke jantung Nya sekali, tak mungkin, malahan makin memerosotkan mutu jiwa itu sendiri, sehingga yang tadinya baik-baikpun bisa menjadi buruk juga dikarenakan puja sanjung yang dihamburkan padanya.

Oleh sebab itu sangatlah gawatnya jalan lurus ini sehingga jarang yang sanggup melewatinya dengan selamat kecuali memang yang sudah dikehendaki oleh Allah maka akan dapat juga dilewatinya menurut kadar kekuatan yang diberikan padanya juga. Demikianlah misalnya jiwa SUNAN KALIDJAGA maka iapun sanggup pula meniti SIRATAL MUSTAKIM tapi belum seberapa sehingga mesti disempurnakan pula oleh orang lain yang sudah lebih berkesanggupan yang diberikan oleh Tuhan padanya. Maka dari itu sudahlah selayaknya manusia menyadari bahwa tidak bisa memasuki surga itu sendirian tanpa mengingat manusia yang lainnya, dengan arti kata yang sebenarnya tidaklah sanggup masuk surga sehingga segala manusia juga diajaknya ikut serta. Seperti pula pada zaman NABI IDRIS, diapun sudah sanggup pada masa itu tetapi baru sendirian, jadi dikembalikan pula oleh Tuhannya supaya kelak bersama-sama pula dengan manusia-manusia yang lain. Sudahlah selayaknya hal yang demikian itu disadari benar-benar oleh manusia sehingga benar-benar merasa bahwa segalanya ini sama, satu saja yakni dari Tuhan sendiri juga, sehingga tidaklah ia merasa lain dengan yang lainnya, sehingga tidak ada musuh walaupun sittan dan Iblis sekalipun, semuanya dari Tuhan juga tiada lain yang harus dilenyapkan kembali kedalam Tuhan Oleh manusia.

Demikianlah rahasianya, maka janganlah manusia menganggap musuh terhadap yang lainnya. Jangankan musuh menganggap ada pun masih salah, sebab yang ada hanyalah Tuhan sendiri juga tiada lain yang sedang ber sir demikian. Oleh sebab itu tiadalah jalan lain kecuali menyerahkan keseluruhan ini kepada Nya tanpa tanggung-tanggung dan tanpa tangguh lagi. Itu andaikata kuat. Adapun tidaknya bukanlah hal pula yang mesti diperdulikan amat. Karena manakala kita memperdulikan sangat niscaya menjadi salah lagi, sebab nafsulah yang bekerja dan bukan lagi serah diri.

Disinilah sulitnya persoalan itu yakni antara berikhtiar dan berserah diri, bermau tidak berkemauan. Manakala telah sanggup maka jalanpun akan terbuka. Tuhan akan menuntun dengan memberi isyarat-isyarat ataupun mengirim Kidir yakni semacam Nabi bagi manusia biasa tetapi bukan pula suatu keanehan andaikata Tuhan memberi pula tuntunan cara yang lain. Alam kejiwaan begini adalah amat halusnya sehingga membutuhkan ketrampilan juga untuk dapat melaksanakannya lebih jauh. Manakala nafsu itu masih kasar maka sifatnya akan menjadi lain yakni semacam gado-gado yang bumbunya belum masak maka akan dialaminya suatu kontras antara halus dan kasar gila dan waras. Dan manusia-manusia begini akan menjadi permainan cahaya-cahaya yang bermacam-macam sehingga bisa juga gagal dalam usahanya menuju Tuhan bahkan bisa sesat ke alam lain maupun menjadi benar-benar gila. Oleh karenanya janganlah ada perasaan memaksa diri sehingga menjadi salah tuju. Berserah diri bukanlah memaksa diri. Cahaya bukanlah api, bukanlah nafsu. Barang siapa yang memerlukan baiklah membaca buku kami yang berjudul : NAFSU YANG SUCI, niscaya akan lebih dapat penerangan lebih jauh tentang adanya macam-macam rintangan nafsu dalam menuju jalan Ilahi. Maka sudahlah sewajarnya manusia yang belum sanggup membuang sama sekali nafsunya mengambil jalan lain, yakni bersuci-suci diri lebih dahulu sebelum menerjunkan diri dalam laut cahaya yang terlampau sangat gawatnya tetapi bagi mereka tetapi bagi mereka yang telah reda bahkan suatu keharusan yang mesti dilewati. Oleh sebab itu barang siapa di antara pembaca ada yang pernah mengalami terbuka hijab tetapi lantas kembali lagi seperti biasa maupun agak berobah dalam arti kata yang kurang baik, maka seyogyanyalah tenang-tenang bersuci diri lebih dahulu, jangan tergesa-gesa nanti akan kurang baik akibatnya.

Jadi sekali lagi penyerahan diri bukanlah paksaan tetapi harus benar-benar rela, sehingga Tuhanpun akan merelainya pula. Ini bisa terjadi dengan baik manakala nafsu itu telah tenang reda gejolaknya, setidaknya mendekati. Dan kesanggupan reda ini bisa dicapai via pemahaman terhadap hidup ini apa ? Dan selanjutnya bagaimana mesti dihidupi ? Manakala faham itu telah tepat maka gampanglah nafsu itu reda dikembalikan kepada Tuhannya dan bahkan bisa tanpa berombak sama sekali. Tetapi manakala ombak nafsu itu masih terlampau kuat sebaiknya pelan-pelanlah dahulu dan perlu diadakan latihan seperlunya sehingga benar-benar tidak mengkhawatirkan lagi manakala diajaknya menempuh jalan yang lurus nanti.

Pada umumnya orang dahulu menempuh jalan ini dengan bertapa maupun mengasingkan diri atau berpuasa maupun jalan yang lain lagi untuk mendapatkan keseimbangan jiwa, tetapi pada masa sekarang bisalah hal itu dituntun pula oleh pemahaman yang tepat terhadap hidup ini. Maka cara itu akan lebih selamat dan lebih cepat, dikarenakan fikiran itu akan lebih normal terus tidak mengalami pengesampingan ataupun pelenyapan sementara, melainkan biasa saja seperti sediakala dikarenakan memang fikiran itu sendiripun sudah sanggup pula menembus pada Tuhannya, sehingga segala tabir-tabir sudah terkuak baginya.

Demikianlah maka manusia sempurna zaman sekarang sanggup menembus tabir Tuhannya dengan fikirannya sedangpun manusia sempurna zaman dahulu belum lagi, bahkan umat Muhammad malahan dilarang memikirkan Tuhannya dikarenakan masih membahayakan. Tetapi kini sudahlah lain lagi soalnya semuanya dari Tuhan dan memang Tuhan sendiri pula yang dirasa dan perasaan itu sendiri, yang didengar dan pendengaran itu sendiri. Maka tiadalah bedanya segala sesuatu. Mesti saja inipun bertaraf-taraf pula tiada buat manusia sempurna sama derajadnya dikarenakan kekuatan melenyapkan segalanya inipun lain-lain pula.

Ada yang pesat dan banyak ada yang lamban dan dari sedikit. Misalnya Ibrahim, rasa perasaannya bisa kuat sekali sehingga panas api bisa berasa dingin, tetapi Rustamaji tidak bahkan lemah sekali sehingga air maupun angin yang segar bagi orang lain tapi bagi dia menjadi penyakit. Begitupun ABIYASA sangat rapuh tubuhnya walaupun dimana perlu Tuhan menyempurnakan sesempurnanya sehingga sewaktu hendak mati dalam keadaan sakit yang amat sangat Abiyasa tersenyum manis, sebab yang dirasa bukan sakit tapi kenikmatan. Abiyasa belumlah sanggup melenyapkan penyakit dalam dirinya walaupun jiwanya dan pengertiannya sudah cukup sempurna. Tapi sebaliknyapun banyak lagi yang sudah sanggup melenyapkan segala rasa tidak enak menjadi enak, tetapi jiwa dan fikirannya masih dangkal juga dikarenakan memang belum sanggup meningkat tinggi dan jumlah mereka ini banyak sekali, sehingga menjadilah anggapan yang umum bahwa manusia sempurna itu sudah tidak merasakan sakit lagi, padahal sebenarnya tidaklah demikian.

Inilah ciri dari pada manusia sempurna zaman dahulu. Adapun manusia sempurna zaman sekarang tidaklah lagi mementingkan rasa perasaan tubuh, tetapi pemikiranlah yang dipentingkan sehingga nikmatnya malahan melebihi dari pada mereka yang mementingkan tubuh. Demikianlah keadaannya, hendaklah dimaklumi.

Sebenarnya tiadalah ada habisnya dibicarakan soal-soal yang mengenai jiwa Muhammad ini apapula kalau mau dibikin agak melantur, maka ada harapan akan menghabiskan banyak beaya juga untuk mempelajarinya nanti. Tetapi kalau anda pikir-pikir memanglah ada gunanya juga dan bahkan banyak dari pada uang dihambur-hamburkan selama ini hanya untuk menjauhkan petunjuk yang benar bahkan mendekatkan kepada nafsu kebinatangan yang amat mengkhawatirkan. Kini sudahlah tiba masanya manusia ini menyadari pada tugasnya untuk segera kembali pada Tuhan jangan berlama-lama lagi mengelus-elus dunia ini yang rupanya kian manja apabila terus-menerus dikerumuni. Dikarenakan ha-hal yang sangat pelik sifatnya maka hanyalah kami sebut saja diantaranya ialah bahwa Jiwa Muhammad yang sudah tua maka sebenarnya sudahlah agak lain dari pada waktu mudanya, tetapi pada saat mendekati wafatnya Muhammad banyak membikin kesalahan-kesalahan dimana tidaklah pantas diuraikan disini, hanya barang siapa dikehendaki Allah niscaya diberitahu juga ala kadarnya. Tetapi andaikata ada manusia yang mencoba membantahnya dikarenakan sudah keranjingan Muhammad itupun tidak mengapa biarlah saja dia berurusan dengan Tuhan sendiri yakni manakala dia sudah bisa berjumpa. Tetapi andaikata belum niscaya merupakan siksaan pula apa yang kami sebut tadi walaupun hanya sebaris dua. Oleh sebab itu bersegeralah kenal dengan Tuhanmu berbicaralah sendiri, tanyalah ini dan itu, niscaya ditunjuki asal benar-benar mau.

Apakah gunanya percaya kepada Tuhan yang tidak mau memberi tahu apa-apa kepada kita, jangankan menunjuki jalan yang lurus, jalan yang lebar dan gampangpun kita tidak diberinya lewat, malahan selalu disuruh menyuruk-nyuruk di pelimbahan yang berbau amis. Maka apalah salahnya sejak sekarang benar-benar menyembah Tuhan yang benar-benar ada dan sudi memberi petunjuk langsung bukan hanya via Qur’an maupun Hadis yang sifatnya bisa ditafsiri panjang pendek, mengelok dan menyamping sehingga malahan kita bisa terseleweng karenanya. Oleh sebab itu petunjuk langsung dari Tuhan yang tidak meragukan lagi adalah perlu diketuk dari pintunya. Kepalkan tinjumu keras-keras dan ketuk pintu Tuhan agar supaya dibukakan jalan guna dilewati menuju langsung kepada Nya tanpa tabir dan perantara lagi walaupun berujud apa maupun apa. Muhammad bukanlah tengkulak Tuhan, jadi jangan keliru mesti via dia baru bisa ketemu. Bahkan dia sendiri terus terang masih terbelakang dibandingkan dengan Ibrahim misalnya atau mereka yang telah diberi nikmat. Tetapi janganlah mengira bahwa Muhammad itu juga tinggal diam saja tidak mau berusaha mendekatkan diri pada Tuhannya ? Tiadalah jiwa yang sesemangat dia untuk dapat segera bertemu dengan Tuhannya. Tapi apa boleh buat Tuhan baru mengabulkan sebentar waktu hidupnya yang dahulu yakni baru sekira dua jam lamanya yakni sewaktu Mi’rajd. Itupun masih bisa dinamakan untung, sebab banyak pula manusia yang belum sanggup ketemu Tuhannya walaupun dengan kesungguh-sungguhan yang bukan main. Bayangkanlah misalnya BUDHA GAUTAMA alias SIDHARTA yang sudah berani meninggalkan kemewahan kerajaan dan anak isterinya sampai berani hidup menderita yang bukan main, sengaja untuk mendapatkan kebenaran, tetapi apa lacur Tuhan belum mengijinkan sehingga tiadalah ia menemui Tuhan tetapi masih berada dalam suatu alam sesat yang tingkat tinggi ( baca : Kritik baik tentang BUDHA ). Inipun kewajiban manusia sempurna pula untuk menyempurnakannya sehingga dapat kembali ke jalan yang lurus menuju langsung ke Tuhannya sendiri.

Tiadalah kurang-kurangnya manusia seperti dia di seluruh Bumi ini terutama di India yang begitu bersungguh-sungguh tetapi malahan tersesat jalan tiada sampai pada Tuhan, bahkan gentayangan di Alam Sesat dan belum mendapatkan ampunan. Tiada kurang dari dua ratus ribu yang harus segera disempurnakan dikarenakan kesungguh-sungguhan mereka yang sudah sangat melewati batas, berani mati dlam menyiksa diri dan bandingkanlah dengan mereka yang berebutan dunia tetapi mengaku berada di jalan Allah, tiada setapakpun mau surut dari cintanya pada dunia dan menganggap bahwa dunialah satu-satunya jalan mencapai Tuhan. Jadi terbalik imannya tanpa menyadari. Maka kontras ini baiklah membikin kita sadar kepada jalan yang sebenarnya yakni jalan yang sudah ditempuh oleh Muhammad sendiri, juga yang lain-lainnya yang terdahulu, dimana mereka itu berada di Alam kenikmatan surga yang tinggi tetapi belum sanggup langsung merasuk ke jantung Tuhan sendiri.

Apalah daya kami yang tidak ada ini mengenangkan hal ikhwal mereka itu semuanya kecuali hanya mesti bersujud pada Tuhan semata dimana segala kunci rahasia di tangan Nya. Apakah kami mesti begini ataukah mesti begitu ataukah tidak bermesti, adalah dalam genggaman Tuhan semua. Banyak sudah manusia yang menghabiskan umurnya, bahkan hidup berkali-kali berpuluh-kali beratus kali tapi belum juga sanggup ketemu Tuhannya sendiri, dan Muhammad Jiwa Istimewa, pujaan Ibrahim, sekalipun baru sekali hidup sudah bisa ketemu oleh sebab itu pantaslah terpuji dan itulah dia Muhammad.

Keharusan mutu yang paling utama pada masa WIYASA sampai kepada masa IBRAHIM adalah dalam keadaan menurun. Tapi itu adalah memang sudah sepantasnya artinya sepanjang hukum yang dikehendaki oleh Tuhan pula. Hampir seribu lima ratus tahun waktu itu lewat, tetapi hanya diisi dengan kemunduran-kemunduran yang kian menyolok, sehingga pada suatu ketika sudah menjadi keumuman manusia pada menyembah berhala maupun mengagung-agungkan manusia termasuk pula nenek moyangnya.

Maka tiadalah dapat diberantas itu semua kecuali dengan cara yang layak pula pada zamannya yakni dengan cara saling musnah-memusnahkan memperebutkan pujaannya maupun pengisi perutnya. Maka datanglah Ibrahim dengan pedang yang terhunus yakni akal fikirannya yang tajam menembusi segala sesuatunya sehingga sampai pula penembusan itu pada Tuhannya. Itulah keharusan mutu yang paling utama pada masa itu. Sejak masa Ibrahim sampai Muhammad dan selanjutnya keadaan makin menurun lagi sehingga diperlukan Nabi-Nabi yang banyak pula jumlahnya di seluruh Bumi ini. Sejak MUSA sampai MUHAMMAD adalah satu type daripada manusia biasa yang hanya mementingkan perut dan parji semata dan bahkan lebih rendah lagi dikarenakan mereka sudah tidak segan lagi memeras dan menindas kalau perlu memakannya sekali pada tetangganya sendiri maupun tetangga lain bangsa maupun golongan. Ini disebabkan karena Bumi dipenuhi dengan adanya JIWA JUJA MA’JUJA, yakni manusia raksasa yang pernah hidup sebelum Adam. Oleh karenanya diturunkanlah manusia teladan macam ISKANDAR ZULKARNAIN untuk menumpas jiwa-jiwa semacam itu. Tapi itupun tiada segera pula sampai pada ujungnya sehingga malahan berlarut-larut bahkan banyak juga kemudia jiwa KUNARPA yang timbul yakni pemakan bangkai.

Alangkah celakanya Bumi dipenuhi dengan tengkulak-tengkulak bangkai, buayanya buaya dan anjingnya anjing. Babi-babi merata di seluruh permukaan Bumi. Maka manakah manusianya lagi ? Nabi-Nabi palsu berkeliaran menjajakan makanan yang sebenarnya racun. Maka apalah daya Bumi penuh pula dengan racun yang amat berbisa. Maka bisa perang dengan bisa makin menjadi-jadi. Segalanya adalah bisa segalanya adalah panas beracun, akibat manusia yang memperbiakkannya. Dimanakah lagi ada kedamaian ? damaipun damai palsu. Maka menjeritlah manusia sejadi-jadi, tapi tiada yang mendengarnya kecuali telinganya sendiri. Maka makin bisinglah dunia sebab si Pongang itu tidak bisa lari dari bulatan Bumi ini, sehingga tiba masanya cahaya tiba yakni CAHAYA ILLAHI membasuh segala derita dimana dengan jalan apapun tak akan bisa lenyap kecuali bila Tuhan sendiri telah mau. Tetapi kemauan Tuhan ini mesti disosok dengan galah sehingga sudi menurunkan cahaya. Manakala tidak niscaya selamanya akan tetap gelap dan semakin gulita pula, sehingga banjir agung seperti zaman NUH akan terulang kembali untuk membasuh segalanya. Dan, jiwa apakah lagi yang akan timbul setelah banjir usai ?

Demikianlah gambaran ringkasnya sampai pada masa kini yakni masa yang bukan masa lagi, tetapi sudah mulai berakhir. Akhir dari pada segalanya yakni Tuhan sendiri. Maka ganti sekaranglah masanya Tuhan, bukan masa siapa-siapa lagi, bukan masanya peri kebinatangan bukan pula masanya peri kemanusiaan tetapi keharusan mutu yang terutama adalah Tuhan sendiri yakni PERI KETUHANAN.

Manakala manusia sudah sanggup merasuk dalam peri KeTuhanan maka Bumi ini sendirinya suci dan lama-lama akan meningkat derajadnya menjadi akhirat sehingga sanggup pula masuk dalam jantung Tuhan sekali. Demikianlah memang sudah kemauan Tuhan membikin segalanya agar kemudian diserahkan kembali kepada Tuhan oleh manusia. Selain manusia tiadalah dibebani amanat itu, kecuali andaikata Tuhan mau, tetapi Tuhan tidaklah bermau yang selainnya. Manakala kelak Muhammad telah lahir kembali maka KA’BAH akan dirusaknya, sehingga manusia cukuplah mengkiblat kepada Tuhan sendiri. Dikarenakan hal-hal yang masih rumit belumlah kami perkenankan menerangkan sebab musababnya kenapa dahulu sejak zaman Ibrahim Tuhan menyuruhnya membina KA’BAH yakni rumahnya Tuhan. Oleh karenanya belumlah bisa tertuliskan disini soal itu hingga datang saatnya nanti yakni manakala Muhammad sendiri telah lahir, maka niscaya dibongkarnya rahasia itu sampai keakar-akarnya ( bacalah SEJARAH KA’BAH ).

Hanya saja yang bisa diterangkan disini adalah soal terjadinya kota MEKKAH. Maka pada suatu hari Ibrahim bersama dengan isteri dan anaknya si ISMAIL yang baru berumur dua tahun setengah pergi dari kampungnya yakni negeri KAN’AN menuju ke tempat yang ditunjuk Allah. Setelah berhari-hari dalam perjalanan maka pada suatu malam yang cerah bertabur bintang Ibrahim mendo’a pada Tuhannya supaya segera disampaikan kepada tempat yang dituju, sebab sudah amat capai. Tiba-tiba Tuhanpun bersabda : Lihatlah Ibrahim, apakah itu ? Maka Ibrahim terkejut melihat bola api di atas langit yang nampak bergerak mula perlahan kemudian pesat membentur Bumi di kejauhan. Ibrahim tertiarap sujud dengan takutnya akan kemurkaan Tuhan. Tetapi Tuhan tidaklah marah bahkan berbisik : Kesanalah kamu harus menuju, ambillah benda itu dari dalam tanah niscaya pula akan kau dapatkan air. Di tempat itulah kelak akan menjadi kota besar dimana manusia dari pelosok Bumi akan berkumpul.

Ibrahimpun bangun dengan keluarganya menuju ke arah benda tersebut. Setelah tiga hari digalinya maka ketemu BATU BINTANG ( METEOR ) yang dikenal dengan nama KHAJAR ASWAD yang berasal dari PLANIT DENORUS yakni sebuah planit yang sudah hancur pada zaman NUH di Bumi ini. Oleh karenanya maka manusiapun harus pula mengerti tentang Ilmu Bintang agar supaya tiada sontok fahamnya, mengira bahwa dirinya sendiri yang paling hebat di Bumi ini.

Apakah artinya bulatan bumi ini dibandingkan dengan kebesaran ALAM RAYA yang sebenarnya hanya semacam kebon saja bagi manusia sempurna dimana segala sesuatu tersedia dengan serba sedikit. Adapun yang lebih banyak masih berada di Alam yang lebih luas lagi. Kesanalah manusia harus menuju jangan hanya sibuk berkecimpung dalam dunia saja tiada sanggup naik barang sedikit.

Sudahlah selayaknya bahwa manusia ini menyadari tentang adanya alam-alam lain di selain alam-dunia ini. Itulah dia antara lain alam Akhirat yang pernah disebut-sebut oleh Muhammad bahkan menjadi tujuan dari ummatnya, dikarenakan kebanyakannya belum sanggup menuju kepada Tuhan sendiri.

Maka pada masa kini yakni masa yang sudah bukan waktu lagi tetapi sudah mulai berakhir, maka sudahlah sepantasnya manusia menyadari benar-benar tentang adanya waktu yang jenis lain yang lebih tinggi mutunya yakni keabadian. Disanalah terletak keindahan dan kenikmatan yang berlipat kali dari pada di dunia ini dimana segala sesuatunya hanya bisa dinikmati dalam waktu yang sebentar saja. Apalah salahnya mencari nilai yang lebih tinggi lagi bahkan demikianlah seharusnya manusia mencapai mutu yang paling utama yakni Tuhan sendiri.

Telah demikianlah Tuhan bermau mka apalah daya kami yang tidak ada ini untuk membantahnya. Adapun kami tidak, jadi betapa pula mesti membantah, ataukah kami memang disuruhnya membantah maka baru bisa.

Demikianlah ceritanya sekedar hendaklah dimaklumi. Adapun tentang yang lain-lainnya nanti akan diterangkan nanti akan diterangkan pula pada saatnya, misalnya tentang KHIJIR ISMAIL maupun MAKAM IBRAHIM. Maka sudahlah sepantasnya manusia berterima kasih pada Tuhan yang sudah memberi petunjuk kepada kita semua akan hal-hal yang diluar kesanggupan manusia untuk menjangkaunya melainkan manakala Tuhan sendiri yang berkehendak maka baru sampai.

Pada suatu hari Nabi Muhammad sedang tidur maka iapun mimpi ditemui oleh seorang tua yang sebenarnya ia sendiri diwaktu mudanya, maka iapun heran sekali, kenapa disewaktu muda malah tua, oleh karenanya maka sebenarnya mimpi tadi adalah salah tetapi nyata. Kenyataannya adalah bahwa Ibrahim itu itu memang sudah tua yakni jiwanya, sedangkan Muhammad itu adalah pujaan Ibrahim jadi tua juga. Tapi dikarenakan lahirnya baru saja yakni lebih dari dua ribu tahun kemudian maka iapun muda dan baru sekali itu saja lahir. Tetapi siapakah yang lahir itu sebenarnya ? Adalah Ibrahim sendiri tapi dalam keadaan yang lain pula yakni hanya sebagian dari pada jiwanya saja. Adapun yang sebagian banyak masih ada di ALAM ARWAH tingkat tinggi. Tetapi manakala manusia mau menemuinya bisa juga. Maka akan ternyata bahwa bentuk Muhammad itu seperti juga Ibrahim tetapi lebih remaja lagi, sedangkan Ibrahim padat dengan ketuaannya.

Maka jelaslah sekarang siapa yang menemuinya tadi yakni Ibrahim sendiri juga. Andaikata para pembaca masih bingung memahamkan ini tidak usah difahamkan, serahkan sajalah kepada Tuhan semuanya niscaya beres sendiri.

Sebenarnya kesadaran kita inipun bertaraf-taraf pula, dikarenakan jiwa kita juga bertaraf-taraf, begitupun segala sesuatu bertataraf pula tak ada yang sama, sama sekali, walau dua butir elektron sekalipun.

Kalau sama mestilah satu. Maka sudahlah sewajarnya manusia ini yang sudah panjang sekali usianya menyadari bahwa dirinya pernah menjadi kerikil-kerikil pernah menjdi tumbuh-tumbuhan pernah menjadi binatang bahkan pernah pula menjadi manusia pula yakni dirinya sendiri di masa itu.Dikarenakan belum sanggupnya kembali kepada Tuhanlah maka selalu saja masih hidup didalam dunia ini yakni di lingkungan Bumi. Oleh sebab masih menganggap akan ada dan pengaruhnya Bumi jadi belum percaya kepada hanya Tuhan sendiri, oleh sebab itu masih juga memikir, menghitung-hitung, mengindera, menghafal, mencari-cari, memuji-muji dan bukannya menyerah. Padahal yang terpokok adalah penyerahan itu yakni ISLAM sama sekali dan bukan tanggung-tanggung. Manakala masih tanggung-tanggung maka dunialah tempatnya paling tinggi di akhirat yang tingkat rendah. Tapi manakala penyerahan itu sudah bulat-bulat benar maka masuklah sudah dalam jantung Tuhan sendiri setidaknya surga yang tinggi. Demikianlah keadaannya hendaklah dimaklumi.

Manakala manusia ini sudah menyadari tentang kejadiannya hanya dari setetes air, kenapa setetes air bisa menjadi manusia kalau tidak berisi atau berkadar sesuatu yang istimewa sifatnya, maka sudahlah selayaknya mesti demikian, sudah tua sudah banyak pengalaman sudah banyak isi, penuh mencukupi untuk menjadi manusia walaupun hanya setetes air. Air dan air adalah berbeda-beda pula, tak ada yang sama oleh karenanya tak ada yang sama, kalau sama mestilah satu. Oleh karenanya barang siapa yang sudah sanggup menganggap segalanya ini sama maka iapun sudah sanggup bersatu yakni dalam Tuhan sendiri. Disinilah rahasianya hendaklah dimaklumi.

Tetapi andaikata masih belum sanggup tidaklah mengapa, biarlah yang telah sanggup saja menganggap demikian, sebab memang sangat berat untuk menganggap begitu dikarenakan masih belum saatnya juga Tuhan memberikan kekuatan yang demikian mencukupi untuk memperteguh anggapan itu, yakni meniadakan segalanya kecuali hanya Tuhan sendiri yang berbuat sak Sir Nya. Maka akan panjanglah uraiannya manakala mau ditulis semuanya, tapi kami cukupkan sekian dulu dan barang siapa hendak memperdalam teori itu silakan membaca buku yang lain-lain pula, misalnya RAHASIA HIDUP, kunci surga maupun buku-buku tentang alam-alam seluruhnya.

Andaikata anda sanggup menerima wahyu dari Tuhan sendiri itu akan lebih baik lagi tetapi justru oleh sebab anda belum sanggup menganggap bahwa tak satupun yang ada kecuali hanya Tuhan sendirinya belumlah sanggup kuat menerima wahyu itu. Sedangpun wahyu itu temurun manakala dunia seisinya ini menjadi tidak ada. Itulah sebabnya walaupun Muhammad sendiri belum sanggup menerima wahyu langsung dari Tuhannya pada waktu hidupnya yang dahulu kecuali waktu MI’RADJ atau via JIBRIL.

Sebenarnya buku tentang wahyu ada juga, tetapi dikarenakan rumitnya soal belumlah diizinkan hanya mencukupi apa yang termaktub dalam buku RAHASIA HIDUP lebih dahulu, maka kelak manakala masanya tiba akan pula dapat sampai kepada anda. Kini adalah giliran kami untuk menguraikan wahyu yang pernah diterima langsung pada Muhammad sewaktu Mi’radjnya, tetapi pada waktu itu belum tertulis, sebab Muhammad memang belum kuat menerima sehingga sewaktu dalam keadaan biasa lagi maka wahyu tadipun sudah lenyap pula. Oleh sebab itu tidaklah termaktub dalam Qur’an. Terangnya sewaktu Muhammad tadi berkesadaran ada dan dunia inipun ada juga, maka dengan sendirinya wahyu menjadi tidak ada, sebab wahyu tidaklah bisa dimadu dengan dunia dengan manusia, wahyu berada dalam daerah KeTuhanan bukan pada Peri Kemanusiaan.

Tetapi kini oleh sebab manusia sudah diperkenankan pula merasuk jantung Tuhan sekali yang berarti sempurna pada tingkat KHALIFAH pula, maka sudahlah selayaknya wahyu tadi dapat dibocorkan ala kadarnya, kadar pemberian Tuhan Kadar kekuatan berserahnya maupun lenyapnya manusia tadi dalam Tuhannya.

Pada waktu wahyu itu temurun, dunia ini lenyap. Oleh karenanya tiadalah wahyu itu bangsa dunia. Tetapi manakala wahyu dan dunia juga sudah sama saja dan yang ada hanya Tuhan saja maka sendirinya Tuhanlah yang ada.

Inipun masih bertaraf-taraf pula. Oleh sebab itu tidaklah gampang menguraikannya dengan kata-kata. Hanya saja siapa yang sudah sanggup niscaya bisa didapatkan sendiri kadar sanggupnya itu. Disinilah letak tugas kami pula yakni berserah diri atas segalanya sehingga dngan sendirinya Tuhan yang bekerja sekedar penyerahan kami itu. Manakala anda sudah sanggup niscaya diberinya pula wahyu itu kadar kesanggupan anda berserah diri.

Pada suatu hari seseorang sedang melamun, tiba-tiba jatuh buah apel pada kepalanya, maka iapun tersentak bangun dikarenakan melincam dalam fikirannya ilmu yang amat berguna yakni tentang pengaruh tarikan Bumi. Dan kini ada pula orang yang melamun memikirkan kenapa hidup ini cuma berakhir mati.

Oleh sebab itu iapun tertawa tergelak-gelak dan menangis pula sejadi-jadi, sebab tangis dan tawa sudah menjadi sama, hidup dan matipun begitu. Maka lenyaplah dunia ini baginya sebab ia hanya tipu. Dengan sendirinya wahyupun temurun sebanyak kesadarannya tentang lenyapnya dunia ini dan kesadaran-kesadaran itu sendiri-sendiri menjadi lenyap pula berlapis-lapis. Ada dan tidak ada menjadi sama begitupun ada yang lain. Semuanya hanya hukum belaka dipaksakan dari Tuhan yang meliputi. Maka hukum dan yang menghukumkan menjadi sama pula maka tiadalah lain yang ada melainkan Tuhan melulu. Demikianlah keadaannya hendaklah difahami.

Manakala manusia telah tepat fahamnya maka wahyupun mulai mengintip. Demikianpun bagi Muhammad. Sudah lebih dari satu tahun pada waktu itu dia dalam keadaan diintip oleh wahyu. Berkali-kali malaikat pada berdatangan akan mensucikan dia sama sekali sehingga dapat berhubungan langsung dengan Tuhannya, tetapi belumlah mencukupi sehingga setahun kemudian barulah benar-benar terjadi yakni sewaktu Muhammad sedang tidur di CHIJIR ISMAIL pada malam bulan Rajab tanggal 27.

Pada masa itu keadaan jiwa Muhammad sedang dalam keadaan yang sangat krisis yakni krisis dari pada wahyu yang melewati Jibril. Sebab wahyu tadi datangnya amat mengejutkan dan bukannya untuk jiwa tapi hanya untuk rasa-perasaan saja. Oleh karenanya walaupun bagaimana bunyi Qur’an itu tidaklah akan sanggup mengetuk jiwa, kecuali hanya beberapa ayat yang memang tersedia untuk itu, yakni ayat-ayat yang tertuju kepada manusia sempurna maka itupun amat sulit ditafsiri, dikarenakan memang belum masanya manusia kuat menerima itu. Maka Jiwa Muhammadpun mengeluh merindukan Tuhannya yang tidak bisa dicapai dengan perantaraan Jibril. Jelas bahwa Jibril sendiripun menjadi penghalang baginya. Oleh karenanya sebenarnya Tuhan tidaklah mengutus Jibril untuk menjemput Muhammad, tetapi memang Muhammad sendiri yang sudah kuat datang sendiri pada Tuhannya.

Herankah anda andaikata kami beri penjelasan begini : Tuhan itu berada dalam keadaannya sendiri sedangpun yang selain Nya itu berada dalam Tuhan, artinya sepanjang hukum a d a yang diberikan oleh Tuhan padanya.

Oleh karenanya tiadalah suatu apapun yang lepas daripada Tuhannya bahkan sebenarnya Tuhan sendirilah yang ada membikin segala ada yang bermacam-macam jumlahnya. Inilah kata yang setepatnya. Tetapi untuk memahamkan pengertian demikian kebanyakan masih sulit belum sampai, oleh karenanya bisalah diterangkan demikian : Tuhan itu ada dan yang lainnya itu dijadikan oleh Dia, oleh sebab itu harus kembali kepada Nya, habis.

Tapi andaikata yang demikian masih sukar maka lebih baiklah cari makan supaya hidup untuk mati. Apakah itu masih kesukaran memahamkannya ?

Maka saf yang paling rendah dalam keadaan darurat dari pada fikiran manusia adalah kesanggupan memikir tentang ada yakni adanya segala sesuatu ini. Inilah yang pokok. Apakah manusia masih menganggap bahwa segalanya ini ataukah tidak.

Bagi batu misalnya, itu tidaklah membutuhkan tanggapan itu. Tapi bagi binatang itu sudah ada apalagi manusia. Jadi manusia yang tidak memikirkan tentang ada itu tarafnya masih lebih rendah dari binatang.

Apakah ada tadi masih berbentuk sederhana ataukah sudah rumit, itu tergantung pada cerdasnya tanggapan tadi. Maka bagi Muhammad iapun menanggapi tentang adanya ada yang macam lain dari pada adanya segalanya ini yakni ada biasa. Oleh sebab itu apabila ia hendak menerangkan keadaan-keadaan ada yang lain dari pada biasa ini amatlah kesukaran baginya.

Bagaimana mesti menerangkannya padahal keadaannya lain dengan keadaan biasa ini. Maka itu diperlukan kecerdasan pula untuk memberikan keterangan yakni keterangan tentang keadaan ada yang macam lain tadi.

Disinilah rumitnya soal sehingga perlulah pula lebih dahulu diterangkan bahwa sebenarnya untuk menerima keteranganpun harus ada persediaan pula, yakni tanggapan atau kesanggupan untuk menanggapi atau memahami.

Manakala ini tidak ada tidaklah juga dapat memahami walaupun sudah diberi penjelasan yang bagaimanapun. Bagaimana seseorang bisa memahami tentang elektron misalnya kalau dia belum punya tanggapan tentang adanya sebutir pasir atau batu atau bola, niscaya sukar untuk menerima bayangan itu. Tetapi andaikata seseorang itu cerdas tanggapannya maka dengan keterangan yang sedikitpun sudah sanggup memahami dan kemudian faham tadi bisa pula bertambah-tambah kokoh-kuatnya sehingga lama-lama bisa benar-benar menjadi bentuk. Disinilah kekuatan cipta atau puja tak bisa dipungkiri sehingga sebenarnya bulatan Bumi ini dipenuhi dengan bayangan-bayangan yang bermacam-macam dari pada puja maupun cipta manusia sehingga bersusun timbun berseliweran membikin keruh dunia.

Bayangkanlah misalnya seorang manusia memuja Muhammad maka berapakah sudah banyaknya Muhammad-Muhammad pujaan itu yang jadi selama ini. Oleh sebab itu tidaklah heran bahwa dalam agamapun sebenarnya orang harusa hanya memuja kepada Tuhan dan jangan kepada yang selainnya nanti menjadi sesat. Oleh sebab itu menjadilah kebiasaan pula bagi ummat Muhammad untuk bicara soal Ikhtikad yang mana sebenarnya masih jauh mencukui untuk dapat diteruskan kepada pemahaman tentang adanya Tuhan.

Oleh karenanya hanyalah dianjurkan supaya percaya saja kepada Tuhan dan jalan percaya itu adalah adanya Alam ini yang dibikin oleh Nya.

Oleh sebab itu alam inipun ada, yakni sepanjang hukum yang diberikan oleh Tuhan itu dan karenanya menjadilah kenyataan. Tetapi andaikata ditanya tentang Tuhan lagi betapa dia berbuat ini dan itu dan bagaimana keadaan yang sebenarnya maka niscaya dijawabnya entah wallahu’alam, habis.

Bagi yang sudah lebih cerdas lagi tanggapannya niscaya bisa diterangkan lagi demikian. Tuhan itu tak pernah tidur, tidak butuh makan minum, tidak punya anak bini, sebab itu hanya sifat-sifat makhluk terutama manusia dan Tuhan tidaklah lemah seperti manusia membutuhkan segalanya itu.

Betapa mungkin beliau itu tidur padahal alam seluas selebar ini untuk menjaganya nanti niscaya ada yang terselip atau tercecer tidak terurus.

Andaikata tanggapan itu diterus-teruskan maka sebenarnya sudahlah lapuk sedari dasarnya. Sebab Tuhan itu bersifat kuasa, jadi dimanakah letak kuasanya itu ? Apakah Tuhan tidak berkuasa beranak, tidak kuasa menjadi banyak dipaksa harus satu saja terus tidak boleh tidur, dipaksa tidak boleh bersifat lemah seperti manusia, harus gagah perkasa terus. Disinilah letaknya kesalah fahaman selama ini, dikarenakan memang kebiasaan memikir maupun memahami yang lebih jauh lagi. Oleh karenanya bagi mereka ummat Muhammad ini tiadalah perlu lagi kepada pemahaman kepada Tuhan yang lebih jauh dicukupkan sekian saja, dilarang memikirkan Tuhan, sebab kalau memikirkan niscaya sesat keliru, dikarenakan tanggapannya belumlah seberapa kuatnya.

Nanti manakala tanggapan itu sudah cukup kuat niscaya bisa dapat sendiri memahamkannya atau menerima cara-cara yang lain macamnya dari pada kebiasaan ini. Dan inilah pula yang dianut oleh kebanyakan para cerdik pandai. Oleh karenanya maka jalanpun menjadi buntu buat berabad-abad untuk mendapatkan gambaran yang tepat tentang hidup ini, dikarenakan faham-faham yang masih bertingkat rendah yang belum sanggup menggapai daerah KeTuhanan masih bersimpang siur dalam daerah kemanusiaan bahkan kebinatangan.

Inilah sebabnya maka sangatlah menderitanya manusia itu dikarenakan penderitaan bikinannya sendiri yang belum sanggup mengatasi. Juga karena memang demikianlah kehendak Tuhan yakni masih menunggu pula pada kesadaran manusia itu sendiri untuk bangkit menuju kepada Nya.

Manakala perhatian itu sudah mencukupi maka dengan sendirinyan akan segera terlaksana apa yang dimau yakni kembali kepada Tuhan dan hidup ini menjadi sorga yang tinggi bukannya penderitaan lagi. Tetapi manakala nafsu dunia ini masih dibiarkan merajai niscaya jalan kesana masih buntu pula, sebab perhatian hanya ditujukan kepada dunia dan bukan kepada Tuhan yang membikin dunia, akhirat dan segala macam alam-alam yang lain lagi.

Maka berhentilah manusia ini di dunia tidak sanggup balik kedalam Tuhan sendiri bahkan ummat Muhammad yang dianjurkan menggapai akhirat masih juga terpaut kebanyakannya pada dunia sehingga tak sanggup meningkat lagi.

Itulah dia sebabnya mengapa ummat Muhammad sangat terbelakang di lapangan keduniaan`, apalagi di lapangan akhirat. Sebab hatinya pecah dua, dunia dan akhirat sehingga menjadi bingung terus, yang mana sebenarnya yang harus dicari, mencari Tuhan belum juga pernah bisa ketemu, mencari akhiratpun belum kuat, sebab fahamnya masih salah pula tentang akhirat dan jarang yang sudah bisa sampai kesana dan sampai-sampaipun sesudah matinya artinya sesudah ia di alam arwah jadi tak bisa lagi cerita kepada kawan-kawannya bagaimana sebenarnya alam akhirat itu. Waktu masih hidupnya selalu terganggu-ganggu oleh urusan dunia sehingga tak bisa benar-benar mementingkan keakhiratan, itulah sebabnya maka ummat Muhammad disebut ummat pertengahan yakni antara dunia dan akhirat. Jadi dunia tak dapat penuh akhirat begitu juga. Kadang-kadang kedua-duanya sama sekali meleset tak dapat semua. Di dunia melarat di alam kubur mendapat siksa. Demikianlah keadaan ummat Muhammad itu.

Kami bukannya sekedar mencela saja tapi sebenarnya ini adalah cambuk kepada kesadaran yang sebenarnya yakni hidup menurut J A L A N A L L A H sehingga supaya bisa sampai kepada Tuhan benar-benar jangan hanya pura-pura atau dari kejauhan saja melainkan berani meninggalkan segalanya demi Tuhan sendiri juga.

Inilah dia jalan yang lurus yang akan segera bisa sampai tanpa menghitung-hitung lagi, rugi untung bukanlah bikinan manusia sedangpun manusia itu tidak menyengaja membikin dunia maupun dirinya sendiri bagaimana akan merasa rugi, seharusnya haruslah hanya untung saja sebab sudah mendapatkan hidup ini dengan gratis tak usah membayar bea, tinggal melaksanakan apa mestinya dan sudah mendapat nikmat, jadi serba untung. Tapi kenapa malahan rugi dimana-mana, di dunia celaka, di akhirat apalagi, sedangpun di alam-alam yang lain-lain tak bisa menyadari tentang adanya, padahal beribu-ribu alam disediakan untuk tempat bercengkerama istirahat maupun menambah nikmat tetapi satupun tak ada yang diketahuinya malahan mengira tak ada, padahal jelas dalam Qur’an pun di sebut Tuhan segala alam-alam, jadi bermacam-macam dan banyak sekali bukan hanya dunia ini saja dan akhirat nanti.

Itulah bayangan ummat Muhammad pada umumnya, mengira bahwa akhirat itu nanti kalau sudah kiamat yakni hancur seluruh alam ini baru ada.

Faham yang demikian adalah dikarenakan memang belum kuatnya menerima faham yang sebenarnya. Jadi gambaran itu masih gampangan, gambaran kekanak-kanakan . Oleh karenanya perlulah kini mendapatkan gambaran yang sebenarnya setidak-tidaknya lebih mendekati dan untuk itu diperlukan kesanggupan menerima supaya bisa membayangkan setepatnya atau lebih mendekati. Dalam hal ini baiklah membaca buku kami yang lain yang berjudul Segala alam atau Alam-alam juga Alam kubur atau alam sejati apapula terjadinya alam, niscaya akan bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas lagi.

Adapun buku tentang terjadinya alam sebenarnya bukanlah hanya mengupas terjadinya alam ini dipandang dari sudut alam itu sendiri melainkan pula dipandang dari sudut pandangan itu sendiri pula yakni alat yang ada pada manusia untuk menyadari adanya alam-alam tadi. Oleh karenanya dengan sendirinya meningkatkan mutu faham pula, sehingga meningkatkan yang memandang dan yang dipandang dan pandangan itu sendiri. Maka akan kita temui KeTuhanan yang langsung dan tidaklah mencari-cari lagi, sebab sudah terdapat dalam diri kita masing-masing semuanya.

Jadi andaikata anda membaca buku terjadinya alam maka sebenarnya anda membedah diri anda sendiri sehingga mendapatkan segalanya disana tinggal anda berani atau tidak membedah anda sendiri itu sehingga diri tadi menjadi tidak ada sebab diliputi dan ditembusi oleh Tuhan sendiri bahkan penembusan dan peliputan itupun Tuhan juga tiada lain. Maka akan sampailah faham anda kepada faham ADAM MA’RIFAT yakni Adam yang sanggup kembali kehadapan Tuhan di Taman Firdaus, sanggup berwawancara sendiri dengan Tuhan dan dihormati oleh segala malaikat bahkan mereka pada sujud pada anda minta diajar pula akan hal-hal yang mereka belum pada maklum. Jadi anda bisa lebih dari pada malaikat bahkan menjadi gurunya, penunjuk jalannya untuk supaya lebih sempurna kembali ke jantung Tuhan sendiri bukan hanya di kebun. Demikianlah jelasnya haraplah difahami agar tiada lagi ayal meninggalkan semacam dunia ini saja yang mutunya hanya seperti madu yang palsu, manis sebentar lenyap kembali bahkan berganti hukum pahit yang tak sudah-sudah selama anda masih berada dalam cengkeraman kukunya. Oleh sebab itu mestilah segera membebaskan diri dari dunia ini maka keadaan akan meningkat setinggi kesanggupan anda pula.

Sebenarnya andaikata manusia itu sudah memahami apa sebenarnya dunia ini, yaitu tabir bagi Tuhan maka sebenarnya cukuplah itu sudah sebagai pokok pangkal manusia meninggalkan ataupun menembusi dunia itu sehingga bisa berjumpa dengan Tuhan sendiri. Tetapi rupanya untuk berbuat demikian itu masih kurang kekuatan terutama bagi jiwa yang muda-muda.

Sebab jiwa yang tua itu sudah banyak derita banyak macam garam kehidupan, sehingga tahu sudah mutu yang sebenarnya dari dunia ini dengan segera. Tetapi itupun masih salah juga, sebab hanya keumuman padahal Jiwa Muhammad sendiri adalah Jiwa muda tetapi toh sanggup meninggalkan dunia dan berada pada akhirat yang tinggi juga. Bayangkanlah bahwa Muhammad itu berada di langit yang ke 15 padahal langit yang ke 6 saja sudah merupakan surga yang lumayan, apalagi yang ke 7, ini yang ke 15 lagi. Tapi andaikata anda sanggup bisa pula melebihi dikarenakan tingkatan sorga itu sebenarnya ribuan jumlahnya. Mereka Nabi-Nabi yang terdahulu itu sudah lebih tinggi lagi safnya, misalnya Nabi IBRAHIM itu di langit yang ke 28 sedangpun Nabi NUH di langit yang ke 65. Apapula kalau anda sanggup merasuk jantung Tuhan sekali, itu adalah menjadi idaman setiap manusia yakni makhluk Tuhan yang sudah diangkat menjadi wakil Nya andaikata kuat dan mau tapi kalau tidak maka bisa juga menjadi serendah-rendahnya makhluk, itulah manusia.

Sudahlah menjadi kelaziman bahwa manakala manusia itu telah dapat mengatasi sesuatu, maka sesuatu itupun dianggapnya sepele. Demikianpun tentang peningkatan langit atau sorga ini. Oleh karenanya maka herankah anda manakala ada manusia-manusia yang menyepelekan tingkat-tingkat yang dibawahnya walaupun berbentuk sorga ?

Pada suatu hari Nabi Muhammad berjalan-jalan di gurun Sahara. Maka dilihatnya sesekor ular yang sedang menelan binatang kecil yang lain. Maka iapun menjadi bingung apa yang mesti dibuat, mesti membunuh ular itu supaya binatang kodok itu jangan ditelan ataukah membiarkan saja, sebab memang sudah mangsanya. Maka amatlah bingungnya sehingga sangat tersiksa perasaannya memikirkan itu sehingga datang tiba-tiba pertolongan dari langit yakni Jibril datang meleraikan ular dan kodok tadi.

Ini adalah suatu tamsil ibarat daripada mutu perbuatan manusia yang masih mengandalkan fikirannya maupun perasaannya dan mereka yang sudah langsung dari Tuhannya. Jadi jangan menganggap kejadian itu nyata, hanya suatu ibarat saja bagi mereka yang sedang mengalami penyerahan diri yakni yang biasanya disebut jalan lurus atau SIRATAL MUSTAKIM.

Manakala dijumpainya suatu keadaan yang membutuhkan penyelesaian dengan ikhtiarkah atau dengan berserah diri bulat-bulat, maka akan terjadi pertarungan di dalam hati sendiri sehingga terasa sangat beratnya semacam dihancur lumatkan hati kita meyelesaikan persoalan itu. Tapi manakala pertolongan Tuhan sudah datang maka segera saja soal itu lebur sendiri di luar tanggung jawab kita sendiri. Sebab memang demikianlah halnya, manusia tidak menyengaja ada kenapa mesti menyengaja berbuat, memutusi sesuatu ? Biarlah Tuhan sendiri saja yang menentukan, tidaklah usah manusia ikut campur, niscaya akan lekas selesai. Sebab segalanya ini dalam genggaman Tuhan jadi sendirinya kitapun juga. Segala gerak-gerik hati kitapun, sehingga mau tidak mau kita harus berserah diri saja agar supaya benar-benar lebur tanggung jawab kita dan hanya Tuhan sendiri yang menanggung jawab dan bebaslah kita dari pada hisab.

Sebenarnya hidup ini begitu mudah yakni tidak apa-apa dan habis, Tuhan sendirilah yang membereskannya dan kita tinggal dalam sorga. Tapi manakala melincam dalam fikiran kita untuk berbuat sesuatu supaya ini dan itu, itulah dia sittan yakni gesitnya ingatan yang menginginkan buah khuldi yang dikira menyelamatkan, menyenangkan dan selalu memenuhi keinginan kita, rupanya menjerumuskan dan itulah dunia. Oleh karenanya bersegeralah kembali kepada Tuhan dan jangan menganggap dunia ini ada lagi. Yang ada hanyalah Tuhan saja, segalanya ini hukum bikinannya, yang mengelabui mata, mengelabuhi fikiran dan mengelabuhi rasa perasaan kita yakni bisa diringkas dengan kata : Kemanusiaan.

Oleh sebab itu manakala sudah sanggup membenamkan kemanusiaan kita dalam KeTuhanan , maka sudah dengan sendirinya beres. Itulah rahasianya. Barang siapa yang hendak mendalami kami persilakan membaca buku-buku yang lainnya, disini cukuplah sekian saja dahulu dan nanti disambung lagi mana yang perlu.

Kini kami lanjutkan lagi soal Jiwa Muhammad yang sebenarnya masih sangat muda tetapi pesat majunya sehingga sanggup menemui Tuhannya walaupun baru sekali ini hidup di dunia. Adapun rahasianya ialah oleh sebab Jiwa itu sudah terlampau lama tua di dalam ALAM PALIMUNAN selama dua ribu tahun. Adapun Alam palimunan itu bukanlah Alam Kubur tetapi disampingnya yakni yang sebelah dalam lagi sekira jarak antara dunia dan akhirat. Kata-kata ini adalah setepatnya jangan dianggap main-main. Nanti manakala anda sudah lebih maju lagi fahamnya niscaya bisa menerima dan kemudian menyatainya sekali.

Sebenarnya tak adalah rahasia lagi bagi manusia sempurna atau yang sudah merasuk Alam KeTuhanan. Tetapi andaikata manusia malah merasuk jiwa kebinatangan maka akan terus menerus jauh dari petunjuk Tuhan dan makin melantur dari dunia turun dan turun terus sehingga sampai ke Alam Kubur tingkat rendah dan bisa terus menerus sampai neraka. Demikianlah keadaannya. Oleh karenanya bersegeralah bangkit menyadari akan apa hidup ini sebenarnya dan bagaimana harus dihidupi. Manakala sudah selesai segala sesuatunya niscaya Tuhan nanti mengirim petunjuk langsung kepada anda via Nabi KIDIR (Khidir) atau yang lainnya atau tanpa perantara sama sekali. Itulah dia wahyu yang akan menuntun segala gerak-gerik anda sehingga selaras terus dengan kehendak Illahi dan bahkan sebenarnya Tuhan sendirilah yang berbuat dan bukan anda lagi. Itulah dia manusia sempurna atau ADAM dalam surga yang sudah tidak mau lagi diganggu oleh gesitnya ingatan untuk melahap buah khuldi yakni dunia.

Adapun tentang adanya hari kiamat serta segala sesuatu yang berhubungan dengan itu hendaklah kita sudi meneliti tentang segala sesuatunya yakni kejiwaan kita sehari-hari. Maka niscaya akan kita jumpai perobahan-perobahan yang besar dan kecil sehingga sebenarnya hari kiamat itu adalah waktu dimana perobahan tadi berlangsung. Memang pada saat sekarang ini masih setempat-setempat dan sedikit demi sedikit, tapi manakala tingkat bulatan bumi ini sudah pada taraf langit yang kelima nanti niscaya akan dialami peningkatan yang bersama-sama.

Oleh karenanya janganlah merasa tergesa-gesa untuk melihat akhirat maupun surga neraka sendirian saja, karena sebenarnya kurang berguna disebabkan memang belum saatnya bisa tinggal disitu berlama-lama, belumlah dapat dikarenakan goda bencana dari bulatan Bumi ini yang masih berat sekali, dikarenakan manusia-manusia masih belum mau kembali kepada Tuhannya bahkan makin berlarut-larut memperturutkan keinginannya yaitu sittan dan segala macam perasaan enak yang kita sebut saja Jin, juga segala macam hantu-hantu masih berseliweran di Bumi ini sehingga segala cahaya dari manusia-manusia yang baik-baik masih bisa terganggu-ganggu belum polos sama sekali dan mungkin masih membutuhkan waktu pula untuk menuju kepada kesempurnaannya yakni keadaan dimana sudah tidak lagi diharu biru oleh gangguan dunia ini.

Sebenarnya manusia ini bukanlah sesuatu yang lemah sifatnya andaikata ia menyadari, tetapi justru memperturutkan keinginannya maka menjadi budak dari pada keinginan itu. Manakala nanti sudah bangkit niscaya bisa dikalahkannya sittan itu dan bahkan dirinyapun malahan sanggup lenyap pula ke dalam Tuhan, itu andaikata dia mau.

Sebenarnya tidaklah ada lagi yang mesti ditulis untuk pembimbing andaikata manusia ini masing-masing sudah sanggup merasuk jantung Tuhan sendiri. Tetapi oleh sebab keadaan itu teramat beratnya sehingga para Nabi dan para Walipun banyak yang gagal dalam usahanya itu maka Tuhanpun berkehendak menyediakan tuntunan pula yang berujud buku bacaan seperti ini. Manakala datang saatnya Tuhan sendirilah yang akan menuntunnya secara langsung maupun mengirim utusannya yang berpangkat Kidir. Adapun tentang Nabi Kidir inipun kami sediakan pula bukunya untuk meningkatkan kesadaran manusia kepada adanya alam yang lain-lain sehingga lebih mudah menyingkirkan alam dunia yang palsu ini digantikan dengan alam yang lain-lain yang sebenarnya nantinya juga akan terasa palsu pula tapi sudah pada pangkat yang tinggi, sehingga hanya Tuhan sendirilah yang ada tiada lain dan yang selainnya adalah palsu.

Memang setelah anda selesai mempelajari buku Jiwa Muhammad ini maka seyogyanya meneruskan membaca buku tentang Nabi Kidir, juga buku-buku yang lainnya yakni RAHASIA HIDUP, Terjadinya Alam, SEJARAH KA’BAH dan lain-lainnya lagi agar perhatian anda bisa tertuntun terus menuju kepada hanya Tuhan saja dan itulah di SIRATAL MUSTAKIM yang harus dititi oleh tiap-tiap manusia.

Andaikata anda masih keberatan membaca ini, maka tiadalah ada yang memaksa untuk memahami dan mengamalkan. Maka turutlah apa yang anda suka lebih dahulu dengan kesadaran sepenuhnya. Manakala waktunya sampai niscaya akhirnya kesini juga, tetapi sudah dengan kematangan tidak ragu lagi, sehingga penuhlah sudah jiwa itu dengan semangat penyerahan yang bulat kepada Tuhan dan bukan lagi memikir-mikir atau mencari-cari. Inilah sebabnya maka orang dulu pada melarang orang yang muda-muda untuk mempelajarinya dikarenakan memang jiwa muda masih kurang kuat dan mesti menunggu sampai cukup dewasa untuk terjun kedalam gelanggang kejiwaan, yang luasnya tiada bertepi. Herankah anda andaikata kami berkata bahwa sebenarnya kolong langit ini masih sempit, padahal kalau diteropong tak ada habisnya, kebuntuan itu adalah pada mata manusia sendiri. Itulah soalnya rasa perasaan. Andaikata anda sudah sanggup meraga langit yang keempat saja niscaya anda bisa merasai perbedaan yang amat jauh dengan Bumi ini yakni keadaan yang wajar ini. Anda akan mendapati ruang yang dua meter misalnya sudah seperti ruang yang delapan meter luasnya sehingga lega rasanya tiada terganggu-ganggu lagi oleh kesempitan perasaan, apalagi di langit yang lebih tinggi, artinya lebih halus lagi.

Amatlah disayangkan bahwa ummat Muhammad kebanyakan masih belum sanggup menyatai Alam Kubur maupun alam-alam yang lainnya, dikarenakan oleh sayangnya kepada dunia. Oleh sebab itu sudahlah sepantasnya manakala sejak sekarang ini berani meninggalkan keduniawian nya sehingga sanggup meraih Alam Akhirat sebagaimana yang dianjurkan oleh Muhammad tetapi manakala belum sanggup berarti masih harus mengalami pembedahan-pembedahan yang banyak sekali. Karena sebenarnya alam ini beserta dengan manusianya seluruhnya adalah hanya semacam aturan saja dimana aturan-aturan yang lain masih banyak lagi.

Jadi manakala mau sanggup keluar dari satu aturan kepada yang lainnya mestilah mengalami pembedahan, demikianlah keadaannya. Tetapi itupun hanya aturan pula dari Tuhan. Banyak pula dengan tanpa pembedahan seseorang telah sanggup mengalami yang macam-macam pula dalam tiap alamnya, sehingga dia sendiripun tiadalah maklum kenapa sampai begitu.

Pada suatu hari Nabi Muhammad yang pada waktu itu belum diangkat Nabi berjalan-jalan di dekat sumur zam-zam. Tiba-tiba datang dua orang yang menangkapnya membelek dadanya dan ditangkupkan kembali setelah dibersihkan apa isinya. Demikianlah tamsil ibarat, gambaran dari pembedahan itu dan itu dialami oleh Muhammad berkali-kali dengan yang terakhir yakni sewaktu mau Mi’radj. Demikianlah bisa berlaku atas diri kita semuanya manakala Tuhan mau. Tetapi rupanya Tuhan belum pernah mau dikarenakan memang keadaannya kita yang masih terlampau kotor sangat terpaut kepada dunia sehingga tidak mampu meraih alam halus yang di atas kita lagi, malahan jangan-jangan sampai merosot dan kian merosot ke safnya Bumi, saf yang lebih kasar dan makin kasar sehingga akhirnya bukannya dibedah lagi melainkan dibasuh dengan api neraka baru bisa baik. Andaikata terjadi demikian maka sebenarnya itupun kehendak Allah juga dikarenakan kita tidak mau bersegera lekas kembali kepada Nya bahkan kian menjauh dan lupa jalan kembali. Kalaupun tidak lupa juga tidak kuat, sebab terlampau banyaknya tabir yang mengalingi antara kita dengan Tuhan, maka bersegeralah taubat yang sebenar-benarnya dan janganlah lagi ingat kembali kepada dunia yang akan menjauhkan dari Tuhan. Dunia seisinya ini adalah fitnah yang menjerumuskan kita dari jalan yang lurus yakni kembali kedalam Tuhan dengan setepatnya.

Manakala kita telah tahu bahwasanya kesadaran kita ini juga yang kita sadari seluruhnya adalah dari Tuhan melulu maka apalah alasannya kita mau menuju ke tempat lain selain hanya Tuhan ?

Demikianlah ringkasnya andaikata mau diurai niscaya tiada habis-habisnya dan bahkan menghabiskan umur dan beaya, tetapi kalau masih diperlukan yah apa boleh buat, mestilah dilayani juga sampai datang saatnya Tuhan memutuskan tidak lagi, nah dikala itu maka habislah segala perhitungan, segala tanggung jawab dan biarlah Tuhan sendiri yang menghisab.

Barang siapa yang belum sanggup melenyapkan dirinya pada Tuhannya niscaya kena hisab juga, berapa cintanya pada dunia berapa pada akhirat dan berapa kepada Tuhannya. Tapi siapa yang sudah benar-benar sanggup merasuk jantung Tuhan sendiri dengan sendirinya Tuhanlah yang menanggung jawab, sebab dia ada saja tidak, hanya Tuhanlah yang ada. Begitulah iman itu seharusnya hanya kepada Tuhan sendiri.
(bersambung ke Bagian 6)

Buku Jiwa Muhammad, Bagian 4

23 Januari 2009

Sebenarnya Jiwa Muhammad itu adalah jiwa yang masih sangat sederhana. Kesederhanaaan itu terletak pada kemulusannya, dikarenakan sebenarnya jiwa Muhammad adalah jiwa baru bukan jiwa lama semacam IBRAHIM maupun MUSA, atau NUH. Maka sudahlah selayaknya Jiwa MUHAMMAD itu amat pendek umurnya, karena bila panjang ia akan bisa mengalahkan yang lain-lain sehingga keadilan Tuhan menjadi terancam karenanya.
Ini adalah bergurau tetapi juga sungguhan. Karena main-main maupun sungguhan sama juga yakni sepanjang kemauan Tuhan juga. Maka pada suatu hari Nabi Ibrahim berdo’a pada Tuhannya memohon agar supaya diantara anak cucunya kelak ada yang harus menjadi Nabi yang paling besar dan terakhir. Maka sendirinya Tuhan mengijabahi do’a itu dikarenakan memang Ibrahim bersungguh-sungguh dalam do’anya. Tetapi di lain hari Ibrahim sangatlah terkejut karena diberi penglihatan oleh Tuhan tentang adanya manusia sempurna atau ADAM MA’RIFAT maka iapun dengan sendirinya iapun merasa salah berdo’a tetapi sudah terlanjur. Maka iapun segera berdoa lagi untuk memohon agar supaya diantara anak cucunya kelak menjadi penghulu daripada MANUSIA SEMPURNA dan jangan hanya sebagai pengikut saja. Maka do’anya itupun dikabulkan juga oleh Tuhan dikarenakan Ibrahim sendiri yang sudah menginjak taraf sebagai manusia sempurna mau turun derajadnya asal saja dikabulkan do’anya itu. Dikarenakan Tuhan telah mentakdirkan Ibrahim menjadi manusia sempurna sedangkan kini diturunkan derajadnya, maka sudahlah sewajarnya bahwa takdir itu kini tidak berlaku lagi setepatnya, oleh karenanya maka sudahlah sewajarnya manakala takdir pada saat itu sudah tidak berlaku lagi yakni diganti dengan sir Allah.
Andaikata manusia mau memanjangkan fikirannya agak sejenak maka niscaya akan difahaminya fikiran-fikiran yang sebenarnya hanya merupakan suatu aturan sementara dimana aturan lain banyak pula tersedia, dikarenakan kebijaksanaan Tuhan tiada batasnya. Maka seyogyanyalah bersegeralah memahami ini sehingga manusia bisa sempurna sanggup pula keluar dari fikirannya yang hanya sesempit itu.
Takdir adalah fikiran sempit atau mati tak bisa berbuat lain. Padahal Tuhan tidaklah ilmunya sesempit itu yakni hanya bisa membuat semacam aturan fikiran saja melainkan berganti-ganti macampun sanggup pula, apapula hanya menuruti kemauan manusia macam Ibrahim dengan tiada merobah aturan baku tentang takdir. Oleh karenanya bukanlah suatu kemustahilan andaikata manusia sekarang tidak dapat memahami kehendak Tuhan dengan adanya takdir maupun Sir atau apa yang lainnya lagi, dikarenakan oleh adanya semacam aturan pasti yang sudah terpateri pada fikiran manusia yang sepicik itu. Inilah dia aturan takdir yakni kepercayaan bagi umat Muhammad pada umumnya yang belum bisa kuat percaya penuh kepada kekuasaan Allah sehingga diperlukan suatu patok penguat untuk supaya tidak terganggu imannya dikarenakan pengalaman hidup yang bermacam-macam corak ragamnya. Begitulah pula tentang hitungan satu, dua dan seterusnya masih diperlukan bagi fikiran picik tersebut sehingga terpaksa Tuhanpun harus pakai hitungan pula, berapa atau tinggal dimana, cara kerjanya bagaimana, bagamana pengadatannya maupun sifatnya, sedangkan bagi manusia sempurna semuanya itu sudah tak perlu lagi.
Andaikata seorang manusia sempurna ditanya : Tuhanmu berapa ? maka jawabnya : Tuhan itu suka hati mau berapa tidaklah menjadi soal baginya, hanya saja mesti dimaklumi bahwa Tuhan itu bukannya bangsa hitungan bahkan yang membikin hitungan tapi juga kuasa masuk dan keluar dari hitungan itu. Demikianlah hendaknya dimaklumi bahwa manusia sempurna yang sudah sanggup berpadu dengan Tuhannya tidaklah pula perlu kepada hitungan, apakah mau jadi satu saja apakah dua, apakah tiga apakah sampai ribuan banyaknya itu tergantung pula pada tingkat berserah atau padunya dengan Tuhan tersebut. Andaikata ada manusia sempurna yang sanggup mencapai tingkat dimana hitungan seribu dan satu itupun sama saja, dengan sendirinya iapun sanggup mencapai tingkat dimana hitungan seribu dan satu itu sama saja, dengan sendirinya iapunsanggup menjadi seribu dengan kemauan Tuhan juga. Demikianlah adanya, hendaklah dimaklumi.
Tetapi bagi jiwa Muhammad yang demikian itu belum kuat. Belum kuat Jiwa Muhammad untuk berpadu dengan Tuhan bahkan menghadap pun hanya kuat sebentar yakni selama Mi’radj itu. Pada suatu masa kelak yang tidak begitu lama lagi maka Jiwa Muhammad itu akan lahir pula kembali dengan kesanggupan yang sudah tinggi yakni bisa berpadu dengan Tuhannya dan bahkan sanggup merasuk dalam jantung Nya sekali, sehingga sewaktu wafatnya maka jasadnya tiada lagi, sebab sudah sama baginya ada dan tidak ada. Tetapi Muhammad jaman dahulu belumlah sanggup memahami yang demikian, masih membeda-bedakan baik dan buruk, banyak dan sedikit, dan bahkan masih membedakan manusia dengan Tuhannya. Tetapi Muhammad yang nanti sudah jauh lebih maju lagi. Apa saja sudah sama baginya, apakah tanah apakah kambing apakah udara apakah ada – apakah bukan ada sama semua yakni Tuhan melulu, tak ada yang lain.
Inilah tingkat manusia sempurna yang sudah sanggup berpadu dengan Tuhannya. Tetapi andaikata ada manusia yang tidak setuju dengan kemauan Tuhan ini maka dengan sendirinya terserah kepada Tuhan juga, sebab itu adalah kemauan Tuhan pula lepas dari pada tanggung jawab kami. Kami ini ada saja tidak mana boleh mesti menanggung jawab. Tetapi andaikata Tuhan berkemauan demikian itu kuasa juga. Apakah Tuhan akan suka kepada gado-gado apakah kepada pecel apakah goreng ayam, itu boleh-boleh saja, kuasa sekali, bahkan sebenarnya Tuhanpun sudah pula berfirman dalam Qur’an bahwa manusia ini sebenarnya bukanlah suatu apa tetapi serenta merasa ada lantas menjadi-jadi, maka tak bisalah ia kembali lagi kepada Tuhannya kecuali manakala Tuhan mau yakni dengan cara dibasuh dulu dengan api neraka setelah mengalami dilebur dengan bumi. Demikianlah Tuhan bersabda, tapi inipun tidak tercantum tegas-tegas dalam Al Qur’an sebab sangat berbahaya, belum sanggup umat Muhammad menerimanya. Tetapi walaupun begitu barang siapa yang sudah dikehendaki bisa mengerti sendiri tanpa pelajaran dari siapa dan dimanapun. Inilah dia ilmu Tuhan yang sudah pula banyak dimengerti oleh manusia sempurna tapi juga banyak yang belum dikarenakan tingkat mereka belum sampai pula.
Sebenarnya manakala Tuhan mau niscaya manusia bahkan apa saja diseluruh jagad ini bisa kembali dengan segera kepada Tuhannya. Tetapi kiranya kemauan Tuhan tidaklah demikian, sehingga banyak pula yang mesti bertele-tele baru sampai, apapula yang telah dikehendaki supaya sesat, maka iapun sesat terus walaupun diberi petunjuk maupun tidak sama saja. Maka apalah daya kami yang tidak ada ini kecuali hanya menyerahkan ketiadaan kami itu pada Tuhan sendiri sehingga Tuhan sendirilah yang mengatur dan berbuat pada kami. Kami sendiri bukannya perantara, perantara adalah baku padahal baku itu tidak ada kecuali Tuhan. Oleh karenanya hanya Tuhanlah yang ada dan bukan perantara.
Apakah anda mengira bahwa Tuhan itu dapat bergerak dari singgasananya menuju ke bumi ? Mesti saja Dia berkuasa. Tetapi untunglah bahwa Tuhan tidaklah perlu berbuat demikian. Sebab singgasananya, geraknya yang memerlukan dari dan ke itu semuanya adalah Tuhan sendiri pula tiada lain. Barang siapa yang mengaggap yang lainnya itu ada maka ia adalah musyrik, yakni mempersekutukan Tuhan. Oleh sebab itu sebenarnya sudahlah cukup asal manusia menyerahkan keseluruhannya ini kepada Tuhan dan habislah sudah tugas hidup itu. Karena yang demikian itu adalah pokok dan yang lain itu rintangan bukan ranting. Maka hendaknya dimaklumi bahwa Tuhan itu berkehendak supaya manusia ini lenyap semuanya dan Tuhanlah saja hanya yang ada, kecuali andaikata Tuhan bermau yang lain maka tetaplah ia kuasa mempunyai kemauan itu.
Di sinilah letak soal itu yakni pengakuan bahwa Tuhan itu sangat kuasa tiada terbatas dan selainnya itu demikian rupa, sebab yang lain itu pun Tuhan pula. Maka amatlah rumitnya faham ini sehingga barang siapa yang belum kuat bisa menjadi gila, itu adalah kemauan Tuhan juga, maka kitapun harus setuju saja, maka manakala membantah maka itu berarti salah, bahkan tidak mungkin. Sebab tak ada yang kuat membantah kecuali Tuhan sendiri pula. Oleh karenanya amatlah rumit faham ini sehingga Muhammad dan umatnya belumlah ada yang sanggup menerimanya kecuali siapa yang dikehendaki oleh Tuhan. Tapi rupanya Tuhanpun berkehendak agar faham ini segera dapat merata di seluruh Bumi. Maka sudahlah selayaknya nanti banyak yang sanggup menerima dikarenakan sudah kehendak Tuhan. Tapi andaikata belum itupun tidak mengapa sebab itupun kehendak Tuhan pula tiada lain.
Faham yang demikian itu belumlah dapat dikenal pada jaman Muhammad dahulu dan barulah akan dapat dikenal pada masa sekarang dan zaman Muhammad nanti sehingga sewaktu Muhammad mau menghembuskan nafasnya yang penghabisan dia berpesan bahwa sebenarnya dia itu ada saja tidak oleh karenanya janganlah dia diada-adakan lagi sehingga menjadi penggoda bagi para manusia yang masih sempit fikirnya dan dangkal fahamnya.
Demikianlah faham Muhammad tingkat dua nanti. Adapun Muhammad yang tingkat itu sebenarnya masih dirahasiakan oleh Tuhan. Tapi oleh sebab rahasia itu tidak ada dan yang ada hanya Tuhan sendiri maka sebaiknyalah manusia memperteguh keyakinannya hanya kepada Tuhan saja sehingga sanggup berpadu dengan Nya dan sanggup pula mengetahui segala sesuatu kadar kekuatan kesanggupan berpadu itu. Demikianlah rahasia Tuhan tak kan ada yang sanggup menggapai kecuali yang dikehendaki oleh Allah yakni mereka yang telah sanggup menyeberangi jembatan SIRATAL MUSTAKIM dimana segala goda bencana membanjir bersusun timbun harus dibersihkan dengan seksama, dipulangkan kembali kepada Tuhannya.
Adapun tentang Siratal Mustakim itu telah pula kami paparkan dalam buku yang berjudul RAHASIA HIDUP. Barang siapa yang sudah pernah membaca buku itu sebenarnya sudahlah ia memahami tentang Jiwa Muhammad ini, tetapi manakala belum itupun tidak mengapa dikarenakan Tuhanpun berkuasa membikin faham yang bagainanapun sifatnya, percaya maupun tidak, setengah percaya, seperempat, seperseribu maupun yang lari dari kepercayaan dan membikin kepercayaan baru lagi yang lain sifatnya tapi itu semuanya adalah sebenarnya wajar jadi jangan diherankan lagi. Tapi toh kalau mau heran juga maka Tuhanpun berkehendak demikian pula. Inilah dia faham Muhammad yang kedua. Adapaun tentang adanya faham yang memaparkan bahwa Muhammad itu adalah penyudah bagi segala sesuatu maka sebenarnya itu adalah faham yang sesat jangan diturut, dikarenakan faham itu adalah musyrik sehingga sampai sekarang sebenarnya kalau anda bisa menyatai pula tidaklah kurang dari pada SERIBU MUHAMMAD PALSU bikinan manusia yang sudah menyanjung-nyanjung dia sebegitu rupa sehingga Muhammad sendiri menjadi kewalahan untuk memberantasnya di Alam kubur. Mereka Muhammad-Muhammad palsu itu berkeliaran kesana kemari menghembus-hembuskan fitnah agar supaya manusia percaya hanya kepada Muhammad saja dan jangan kepada yang lain walaupun Tuhan sendiri.
Barang siapa yang sanggup silakan menyatakan sendiri benar tidaknya uraian kami ini, dikarenakan inipun sebagai cobaan pula bagi manusia sempurna yang harus melalui coba pula dengan cara digoda oleh Muhammad palsu. Muhammad palsu ini terjadi dari pada kekuatan – kekuatan sanjungan kepadanya yang sudah sekian lamanya abad demi abad bertambah-tambah sehingga kemurnian ikhtikad menjadi terancam karenanya. Maka lebih dari seribu Muhammad menjadi penghalang bagi para calon manusia sempurna sebagaimana Ibrahim menjadi penghalang pula dengan cara yang tidak langsung yakni IFRIT yakni semacam jin yang sangat licinnya sehingga Ibrahim sendiri dulu dikalahkannya meminta tolong kepadanya untuk mengusir jin-jin gurun pasir.
Inilah sebabnya maka para manusia sempurna sekarang ini mesti juga sering mengalami percobaan dari Muhammad palsu serta IFRIT juga Malaikat Jibril. Dikarenakan kesombongannya sebagai malaikat penyampai wahyu bagi Muhammad maka Jibril sangatlah geramnya terhadap manusia sempurna sehingga iapun sering menggoda pula. Demikianlah maka manusia sempurna mendapat cobaan yang berat juga, dikarenakan memang demikianlah kehendak Tuhan membikin ADAM MA’RIFAT dimana manusia bisa langsung berhubungan sendiri dengan Tuhannya tanpa perantara Malaikat maupun yang lainnya lagi.
Demikianlah maka Jiwa Muhammad itu masih sangat mengkhawatirkan, bisa menimbulkan Muhammad-Muhammad palsu yang sekian banyaknya sehingga membikin keruh ikhtikad manusia. Oleh karenanya sudahlah selayaknya harus dikurangi apapula kalau dapat menghilangkan sama sekali itu lebih baik sehingga ikhtikad manusia kepada Tuhan menjadi lebih murni lagi. Demikianlah keadaannya hendaklah dimaklumi.
Adapun manusia sempurna itu sebenarnay sudah bukan manusia lagi, sudah meningkat pada derajad Ke Tuhanan, maka sebenarnya bukanlah lagi mereka itu sebagai contoh ataupun teladan, tetapi harus dianggap tidak ada saja, sebab yang ada hanya Tuhan saja dan segalanya adalah Tuhan tiada lain. Disinilah perbedaan Nabi dan manusia sempurna yakni pada pokoknya Nabi itu ada dan manusia sempurna itu tidak ada. Maka bereslah soalnya yakni tak ada yang menganggap lagi ikhtikad manusia sehinggapun manusia sendiri merasa lega dapat berhubungan dengan apa saja dan dunia sudah menjadi sepi dari pada perhatian, sehingga perhatian hanya tertuju kepada Tuhan tidada lain. Apakah dengan demikian dunia lantas menjadi rusak tidak terurus ? O janganlah segoblok itu benar, bahkan dunia akan menjadi indah dan tinggi mutunya kian meningkat dan meningkat sehingga akhirnya bisa menjadi surga yang luhur. Demikianlah keadaannya hendaklah dimaklumi.
Adapun manusia sempurna yang sekarang ini sebenarnya belumlah seberapa tingkatannya, kecuali mana yang telah dikehendaki Tuhan. Tapi walaupun begitu dunia ini akan makin bertambah maju sehingga tidaklah lagi mesti membawa-bawa nama-nama keluarga maupun bangsa apa pula ningrat dan bukan lagi dikarenakan kemewahan hidup maupun kenikmatannya bahkan perhatian ditujukan kepada yang membikin dunia dan kenikmatan itu sendiri. Sebab teranglah sudah bahwa apa yang menciptakan nikmat itu akan lebih nikmat dari pada nikmat itu sendiri, malahan lebih lagi yakni nikmat yang bukan nikmat lagi tapi penuh pula dengan manfaat yang tak sanggup lagi dilukiskan dengan kata-kata bahkan harus dirasainya sendiri.
Demikianlah keadaannya hendaklah dimaklumi bahwa perasaan dan yang dirasai begitupun yang selainnya sudah terdapat dalam Tuhan semuanya. Maka apakah alasannya akan mencari yang lain ? Sedangkan yang lain itu sebenarnya sudah berada di sana semua. Maka sebenarnya sana dan sini pun menjadi sama tidak ada semua hanya Tuhan saja yang ada membikin sana dan sini. Inilah pula termasuk hal-hal yang menjadi ikhtikad manusia sempurna juga tingkat Jiwa Muhammad kedua.
Sebenarnya cukuplah sampai sekian dulu keterangan tentang Jiwa Muhammad kedua tapi oleh karena sampai dan tidak sampai itu sama karenanya bisalah juga diteruskan demikian :
Sebermula Muhammad adalah tidak ada. Maka Tuhanpun berkehendak mengadakannya. Maka Muhammadpun menjadi ada yakni di ALAM PALIMUNAN atau ALAM ARWAH dan masih berujud NUR atau CAHAYA. Maka Tuhanpun berkehendak pula menyempurnakan cahaya itu kepada benda, yakni sesuatu yang demikian sifatnya hingga manusia bisa menyebut bahwa dia itu benda. Maka bendapun berada dalam cahaya dan cahaya berada dalam Tuhan. Maka sendirinya bendapun berada dalam Tuhan.
Keterangan ini semua adalah salah tapi benar juga, sebab salah dan benar itu sama, oleh karenanya tidaklah perlu dipertengkarkan karena semuanya sama berasal dari Tuhan melulu tiada yang lain. Oleh sebab itu sudah sewajarnyalah Muhammad itu tidak ada sebab dia itu ada, dengan arti kata ada sama dengan tidak ada, dikarenakan ada disini adalah diadakan bukan berada dalam keadaannya sendiri sebagaimana adanya Tuhan. Maka sudahlah selayaknya manusia mengerti bahwa sebenarnya Muhammad adalah manusia juga seperti yang lainnya yang ada dengan tidak sengajapun sengaja juga bisa andaikata Tuhan mau, tetapi Tuhan tidaklah bermau demikian melainkan berkehendak supaya segalanya ini sama tidak ada semua dan hanya Tuhanlah yang ada mengadakan ada dan yang selainnya, dikarenakan kekuasaannya mempunyai sir yang demikian. Maka sudahlah selayaknya manusia ini yang ada maupun tidak adanya tergantung pada Tuhan melulu, menyadari bahwa kesadarannya itupun hanya hukum pula yakni peraturan yang sedemikian rupa sehingga tak bisa berbuat lain kecuali hanya menyerah belaka.
Manakala manusia sudah sampai kepada faham yang demikian maka iapun menjadi sempurna juga yankni sama dengan Muhammad tingkat dua nanti. Inilah ilmu dari Tuhan, barangsiapa yang mau hendaklah percaya dan barangsiapa yang tidak hendaklah jangan percaya, sebab percaya maupun tidak sama saja bagi Tuhan, kemauan Nya sendiri pula. Hanya saja manakala manusia tidak percaya maka iapun harus bertanggung jawab terhadap ketidak percayaan itu sehingga walaupun terpaksa mesti dibasuh dengan api neraka sekalipun, itulah resikonya.
Oleh karenanya sebenarnya gampang saja hidup ini percaya pada Tuhan atau tidak dua-duanya boleh-boleh saja, tapi awas tanggung jawabnya. Manusia yang percaya hanya kepada Tuhan saja sedang kepada dirinya sendiripun tidak maka dengan sendirinya Tuhanlah yang menanggung jawab dan bukan dirinya sendiri yang memang tidak ada itu. Tapi bagi manusia yang merasa ada dan tidak percaya pada Tuhan maka dengan sendirinya dia mesti menanggung jawab terhadap kepercayaannya itu mau tidak mau. Jadi berarti terpaksa demikian tak bisa lain. Sebab dia ada maupun tidak bukanlah kemauannya sendiri jadi terpaksa harus mengalami apa akibatnya. Demikianlah hukum dari Tuhan berlaku dan terserahlah pada Nya juga mau berlaku terus atau berhenti atau setengah-setengah atau keluar sama sekali dari kebiasaan hukum itu. Itu adalah sir Tuhan sendiri tiada lain. Inilah dia kepercayaan manusia sempurna juga Muhammad tingkat dua, tapi andaikata ada manusia yang percaya maupun tidak percaya itu juga boleh-boleh saja dengan aturan atau kaidah sebagaimana yang tersebut di atas.
Demikianlah maka tiada habis-habisnya soal ini bila dibicarakan terus menerus, karena memang demikianlah keadaannya, tiada dibikin buntu oleh Tuhan melainkan manakala Tuhan mau. Tapi rupanya Tuhan belumlah bermau demikian yakni merobah atau menambah hukum itu. Maka sudahlah sewajarnya kita manusia yang sudah memahaminya cukup dengan menyudahinya dengan cara berserah diri bulat-bulat pada Nya, maka niscayalah Tuhan nanti akan segera mengirimkan cahayanya yakni wahyu guna menuntun hidup kita ini selanjutnya, makin berserah diri makin tinggi taraf wahyu yang kita terima sehingga tiadalah soal lain yang harus diperhatikan kecuali hanya itu yakni menuruti perintah Tuhan semata sehingga akhirnya bisalah pula kita mencapai derajad yang tinggi dan mungkin sanggup juga merasuk dalam jantung Tuhan sekali. Demikianlah keadaannya hendaklah dimaklumi.
(bersambung ke Bagian 5)

Buku Jiwa Muhammad, bagian 3

23 Januari 2009

Sebermula maka adalah suatu cerita Muhammad adalah manusia yang istimewa. Keistimewaannya terletak pada daya yang ada padanya, yakni daya bahwa siapa-siapa yang memandang padanya mesti tertarik. Ini adalah cerita yang nyata, artinya bukan bikin-bikinan dan bukan pula lebih-lebihan melainkan tepat apa adanya. Tetapi pada suatu hari Muhammad sendiri melihat manusia yang persis dirinya tetapi lebih menarik lagi bahkan berlebih-lebih. Maka iapun lantas bertanya kepada manusia di kampung yang berpangkat Kidir. Maka didapatnya keterangan bahwa apa yang dilihatnya itu adalah dia sendiri pada saat nantinya yakni saat ia Muhammad sudah lahir kembali di hari kiamat. Maka Muhammad pun menjadi bingung, betapa mungkin Tuhan membikin manusia yang serupa benar tetapi lain rasanya lain apa-apanya lain tingkatan kejiwaannya padahal yang itu-itu juga tiada lain. Maka Tuhanpun bersabda dalam Al Qur’an. Bahwasanya aku ini adalah berkuasa dan kuasaku tiadalah berwatas, tetapi bukanlah kami telah berkata bahwa sebenarnya manusia ini sama, terbikin dari darah segumpal yang ia hidupkan dalam rahim, maka itu segeralah sujud pada Tuhan mu agar supaya dapat pula petunjuk yang lurus.
Tetapi ayat ini tidaklah terdapat di dalam Al Qur’an dikarenakan kemauan Tuhan juga, sebab manakala tercantum benar-benar disana bersama dengan ayat yang lain-lain nanti akan ternyata bahwa ayat yang lain-lain itu kurang berharga, lagi pula niscaya manusia akan membantahnya dikarenakan kebodohannya belum bisa menerima kebenaran yang sejati. Oleh karenanya maka manusia pada zaman itu belumlah sanggup melebihi Muhammad dikarenakan masih sangat sayangnya kepada Muhammad sendiri yang sangat menarik perhatian. Oleh sebab itu tahulah sekarang apa yang kami maksud dengan kata-kata Muhammad yakni yang terpuji, padahal : SEGALA PUJI BAGI ALLAH, maka jelas Muhammad adalah menyalahi sendiri. Jadi ikhtikad Muhammad itu sebenarnya masih menghambat pertemuan manusia dengan Tuhannya, walaupun pada dasarnya dia sendiri menganjurkan dan berusaha sendiri pula untuk dapat seperti Nabi-Nabi yang dahulu kala setidaknya seperti Ibrahim. Jelaslah sudah kini kenapa do’a shalatnya selalu pula menyebut-nyebut Ibrahim maupun yang lainnya yang sudah mendapat nikmat dari Tuhannya dan bukan yang mendapat murka apapula yang sesat.
Jadi Muhammad sendiri mengakui bahwa masih kurang oleh sebab itu janganlah manusia suka melebih-lebihkan agar tiada menjadi orang yang berlebih-lebihan. Oleh karena Muhammad sendiri merasai kekurangannya maka sudahlah selayaknya manusia yang sudah sadar jiwanya tidak lagi mengandalkan hanya kepada Muhammad saja tetapi terus langsung kepada Tuhannya sebagaimana pula Muhammad sendiri sudah memberi contoh.
Jadi bukanlah Muhammad itu diutus untuk disanjung-sanjung melainkan untuk meninggikan martabat manusia di zaman kemunduran yang amat, yakni zaman manusia sangat terpikat pada dunia. Dikarenakan hal-hal yang sangat rumit sifatnya maka kami tiadalah sanggup menguraikan hal-hal yang kurang baik pada Muhammad kecuali manakala perlu, disebabkan sudah saatnya bahwa manusia-manusia kini harus bisa melebihi Muhammad setidak-tidaknya menyamai yakni yang menganggap dia sebagai teladan yang baik. Tetapi manakala Tuhan mau tiap-tiap manusia niscaya mengerti sendiri, diberitahu oleh Tuhan masing-masingnya tentang kekurangan-kekurangan itu sehingga tidaklah usah mendapatkan keterangan dari orang lain yang sebenarnya bisa juga bohong atau berlebih atau berkurang. Tetapi apa yang diterima dari Tuhanntya sudahlah hal yang sepatutnya menurut kadar kuatnya menerima sepanjang iradat Tuhan sendiri juga.
Bagi setiap manusia sempurna hal begini adalah lumrah yakni sudah umum bisa dialami setiap waktu, yakni waktu yang sudah bukan waktu lagi melainkan keabadian baginya. Manusia sempurna sudah sanggup meningkatkan waktu menjadi abadi, inilah hal yang wajar tetapi juga tidak, sebab abadi itupun hanya hukum pula terserah pada Tuhan. Maka sudahlah sewajarnya pula hanya Tuhan sajalah yang ada dan yang lain itu terserah pada Nya juga.
Pada suatu hari Nabi Muhammad bertemu dengan Kidir dan bertanya : apakah yang menyebabkan maka saya tidak dapat berhadapan dengan Tuhanku ? Kidir menjawab : Sebab tuan-hamba adalah sangat terpuji. Maka Muhammad pun tunduk kemalu-maluan merah padam mukanya lantas sujud menangis. Maka Tuhanpun berkata bahwa sebenarnya Muhammad itu adalah Nabi pilihan dan Rasul pilihan juga, oleh sebab itu tidaklah selayaknya menangis. Maka Muhammadpun bangun mendengar suara itu dalam jiwanya. Maka jelaslah kini bahwa Muhammad adalah manusia dan Nabi dan Rasul yang terpilih oleh sebab itu jelaslah sudah martabatnya. Maka tiadalah bisa diragukan lagi kebenaran kata-katanya maupun segala tindak-tanduknya. Manakala manusia sudah maklum bahwa sebenarnya Muhammad itu sendiri adalah manusia dan Nabi dan Rasul yang pilihan maka sendirinya akan memilih sebagai teladan maupun obor di dalam menerangi jalan hidupnya. Itu adalah wajar dan memang sudah sepantasnya.
Tetapi kini soalnya sudah lain lagi. Manusia di zaman yang terakhir ini sudah mengalami kemajuan-kemajuan dalam beberapa lapangan dimana manusia-manusia zaman Muhammad masih belum sanggup menggapainya, terutama dalam lapangan kejiwaan. Oleh karenanya sudahlah sepantasnya bahwa manusia sekarang tidaklah lagi terikat pada apa yang telah diperbuat oleh Muhammad pada zamannya, tetapi justru harus berani bertindak maju setaraf dengan keadaannya dewasa ini yakni waktu yang sudah bukan waktu lagi, zaman yang sudah berakhir. Manakala manusia sudah mendalami tentang keadaan hukum dunia ini maka niscaya segera akan diketahuinya bahwa segalanya ini palsu belaka hanya terikat pada tabir yang sebenarnya juga palsu dan hanya Tuhan sendirilah yang ada tiada lain. Maka akan segera diungkapkan segala yang belum terungkap di zaman Muhammad yakni misalnya tentang ALAM ARWAH, ALAM MALAKUT, ALAM IRADAH yakni KEMAUAN TUHAN, ALAM TAKDIR atau LAUH ALMAHFUDH, ALAM AKHIRAT maupun yang lain-lain yang tiada terbilang jumlahnya, sebab sudah bukan bangsanya hitungan lagi martabatnya, melainkan harus dijelajahi sendiri dengan jiwa maka baru dapat.
Oleh sebab itu sudahlah selayaknya manusia di zaman sekarang mengerti tentang keadaan-keadaan yang sebebanrnya belum bisa dijelajahi oleh Muhammad sendiri maupun para sahabatnya dan umatnya di zaman itu yakni selagi Muhammad masih hidup. Kalau dahulu diartikan sebagai yang sebenarnya yakni letter lijck tetapi sekarang sudah dipersamakan saja hidup dan mati dan yang ada hanya hidup agung yang sebenarnya masih juga palsu andaikata yang didalami dan hanya Tuhanlah yang ada dan yang kuasa juga tidak ada sepanjang kemauan Nya yang pula Dia sendirilah yang membikin ada dan tidak ada terserah pada Nya mau ada maupun tidak. Faham yang begini andaikata diumumkan pada zamannya niscaya manusia belum bisa menerimanya, bisa juga menjadi gila semuanya sedangpun kebanyakan dari manusia zaman sekarang masih belum juga banyak yang kuat sampai sekian. Hanya saja sudah sanggup menerima ala kadarnya akan hal-hal yang sudah lebih maju dari pada zaman Muhammad, itupun tergantung pada kemauan Tuhan pula. Manakala Tuhan mau maka segalanya terjadi pula. Siapakah yang sanggup menghalangi kemauan Tuhan ?
Sebenarnya bukanlah soal yang aneh lagi manakala manusia di zaman kini bisa berwawancara sendiri dengan Tuhannya, dikarenakan sudah sanggup meniti SIRATAL MUSTAKIM sehingga selesai sudah tugas hidupnya yakni kembali pada Tuhannya dan bukanlah tersangkut pada dunia ini maupun alam yang lain-lain walau akhirat dan sorga neraka sekalipun. Hal-hal yang begini sudah pula kami paparkan dalam buku yang berjudul RAHASIA HIDUP.
Kini kami melanjutkan lagi soal Jiwa Muhammad, yang sebenarnya kini sudah ketinggalan zaman, sudah mulai kendor semangatnya dikarenakan memang hanya harus sampai sekian yakni sampai akhir zaman. Padahal kini zaman itu sudah mulai berakhir dan masih juga akan terus berjalan sampai pada akhirnya pula, yakni keabadian dimana tiap-tiap sesuatu sudah menjadi bersifat abadi. Faham begini niscaya pula dibohongkan orang pada zaman Muhammad, sebab manusia belum pada bisa merasakan keabadian, belum sanggup menjangkau ke akhirat belum mencicipi surga maupun neraka, belum pula dapat mati dan hidup kembali mana suka, apalagi masuk ke jantung Tuhan, sama sekali belum. Oleh sebab itu amatlah sangat miskinnya jiwanya sehingga sewaktu melihat keindahan dunia ini sudah menjadi sangat silau sehingga jiwa raganya terpaut hanya kepada dunia saja, karena belum melihat atau menyatakan yang lebih dari pada itu. Manakala manusia sudah sanggup mencerapi kenikmatan yang kekal yakni nikmat ukhrawi niscaya tak mau lagi dipikat oleh nikmat duniawi yang hanya sekejab kemudian lenyap.
Pada zaman dahulu yakni zaman NUH, manusia sudah sanggup mencicipi surga pula sebagaimana manusia di zaman sekarang nanti, tetapi tarafnyapun sebenarnya lain pula dikarenakan fitrat kemanusiaannya masih lain dengan yang sekarang yang sudah lebih banyak usia, banyak pengalaman yang dideritanya, maka kembalilah manusia di zaman sekarang ini kepada Tuhannya denga nilai yang lebih tinggi. Manakala Tuhan mau bagaimanapun bisa terjadi, tetapi Tuhan tidaklah berkemauan demikian bahkan selalu masih mempergunakan hukum itu kecuali terhadap beberapa orang yang menjadi kehendak hatinya hati Tuhan sendiri. Misalnya Muhammad dan beberapa orang di zaman antara IDRIS dan NUH. Maka bagi mereka itu Tuhan membikin aturan yang lain yakni JIWA ISTIMEWA. Sekiranya Tuhan mau niscaya dibikinnya pula keistimewaan lagi diantara yang istimewa itu atau lebih istimewa dari istimewa, tetapi Tuhanpun maklum pula bahwa sebenarnya itu tidaklah perlu, sebab sebenarnya istimewa maupun tidak sama saja yalah sepanjang kemauan Nya juga. Disini letak faham manusia sempurna yang sudah mempersamakan segalanya dengan SIR ALLAH, bahkan sebenarnya yang ada hanyalah SIR ALLAH sendiri. Tetapi andaikata kami terangkan dari sudut manusia sempurna yang sudah tinggi tingkatnya taklah ada lagi yang akan diterangkan, sebab bagi mereka yang sudah sanggup bersatu padu dengan Tuhan, tak lagi membutuhkan keterangan yang macam manapun. Semuanya sudah berada di Tuhan sendiri pokok pangkal segala persoalan dan cabang rantingnya sekali juga daun-daunnya yang sudah kering berguguran juga pupuk-pupuknya tak ada yang ketinggalan sudah tersedia semuanya.
Jadi keterangan kami disini adalah untuk mereka yang masih membutuhkan keterangan dimana dengan keterangan itu nantinya bisa memahami dengan tepat maksud hidupnya yakni pada jalan yang lurus menuju Tuhannya tiada lagi terseleweng ke lain-lain. Inilah tugas kami sebagai manusia yaitu membimbing yang lainnya pada jalan yang lurus agar semuanya selamat sampai pada Tuhannya. Adapun mereka yang tak mau itu soal Tuhan sendiri pula, apakah mau ataukah tidak, kami berserah diri. Tugas kamipun sebenarnya hanya itu yakni berserah diri atau ISLAM sama sekali dan bukan tanggung-tanggung lagi sebagaimana yang pernah diajarkan oleh Muhammad bagi umatnya.
Kami sendiripun termasuk umat Muhammad juga, tetapi sudah mendapat ampunan dari Tuhan dan dilanjutkan jalan kami lebih maju lagi sehingga sanggup masuk ke jantung Tuhan sekali bukan sekedar menghadap. Oleh sebab itu bukanlah soal sembarangan keterangan ini bagi manusia biasa tetapi bagi manusia sempurna yang sudah tinggi tingkatnya adalah hal wajar saja. Maka tidaklah heran manakala bagi umum mungkin kami disebut gila atau entah apa lagi. Tetapi gila atau tidak sebenarnya sama saja bagi kami atau bagi mereka pula yang sudah sanggup keluar dari cengkeraman hukum dunia yakni hukum akal fikiran dan perasaan biasa dimana masih ada hukum benar dan salah, gila dan waras, baik dan buruk. Tetapi bagi kami hukum itu sudah tidak berlaku lagi. Bagi kami yang ada hanya Tuhan yang sudah mengadakan ada dan bukan ada, juga yang selainnya lagi juga yang telah membikin segala sesuatu yang belum bisa dijangkau oleh fikiran dan perasaan manusia, semua itu adalah sebenarnya hanya hukum saja dari Tuhan tiada lain. Tiada semuanya itu menyengaja ada ataupun berpokok ada, melainkan diadakan oleh hukum Tuhan yang sedemikian rupa sehingga menjadi yang demikian tak bisa berbuat maupun berkeadaan lain. Oleh sebab itu sudahlah sewajarnya bahwa segala gerak-gerik kamipun adalah kemauan Tuhan belaka tiada lain. Demikianpun gerak-gerik segala sesuatu.
Sebenarnya kami ini tidak ada, yang ada hanyalah Tuhan sendiri yang sudah mengadakan hukum yang begini rupa tak bisa berkeadaan lain. Oleh sebab itu sudahlah selayaknya bahwa kamipun tidak bertanggung jawab terhadap segala gerak-gerik kami yang mana sebenarnya tak bisa lain kecuali hanya kemauan Tuhan sendiri juga yang mana sebenarnya juga sudah berarti bahwa sebenarnya Tuhan sendirilah penanggung jawab terhadap segala sesuatu dan bukan segala sesuatu itu sendiri yang mesti menanggung jawab.
Andaikata ada manusia yang berpendapat lain maka sebenarnya itupun sepanjang kemauan Tuhan juga masuk neraka maupun surga demikian lagi. Tetapi bagi manusia lain mungkin berpendapat lain pula yakni bahwa apa yang kami utarakan ini adalah pendapat kami sendiri. Sebenarnya inilah suatu kemusyrikan mempersekutukan Tuhan dengan kami, padahal kami ini tidak ada hanya Tuhan saja yang mengadakan kami begini rupa tak bisa berbuat lain. Apakah ada yang bisa berbuat selain Tuhan ? Oleh sebab itu sudahlah selayaknya bahwa manusia berusaha sekuat mungkin untuk segera dapat menyelaraskan diri dengan kemauan Tuhan itu yakni yang bernama ISLAM pula, agar segera dapat lenyap bersatu padu dengan Tuhannya.
Disinilah tujuan hidup yang sebenarnya, JALAN YANG LURUS yang hanya menuju Tuhan saja bukan kepada yang selainnya. Oleh karenanya manakala ada manusia yang mengaku islam tetapi masih belum mau kembali kepada Tuhannya bahkan masih senang kepada dunia, adalah suatu tanda bahwa kematian telah menimpanya dan bahkan lebih lagi, ia telah mati berlapis. Apa yang kami maksud dengan kata mati berlapis-lapis adalah sudah pula kami uraikan dalam buku yang berjudul RAHASIA HIDUP juga pada buku-buku yang lain-lain misalnya ALAM ARWAH, maupun ALAM SEJATI, juga ALAM TUNGGAL yakni ALAM WAHDANIYAT. Tetapi belumlah dapat pada waktu itu manusia mendalami tentang apa arti mati berlapis-lapis, sebagaimana pula belum dapat dinyatainya hidup agung apapula hidup akhirat sehingga Muhammad sendiri mempunyai gambaran yang kurang tepat tentang adanya hari kiamat dimana disebutkan segala alam ini hancur berantakan tiada terkendalikan lagi. Maka alangkah celakanya manusia yang tiada mau percaya kepada adanya hari pembalasan itu padahal sebenarnya tidaklah ada hal yang lebih rumit dari pada memperkatakan hal-hal yang tidak dapat disifatkan dengan hanya melewati kata-kata saja, melainkan harus dialaminya sendiri yakni dengan cara menyatai atau meraga yaitu mentrapkan diri pada keadaan yang semestinya yakni yang dituju.
Dengan demikian maka sudahlah selayaknya manusia zaman sekarang bersyukur pada Tuhannya bahwa sudah banyak yang bisa menyatai hal-hal yang belum dapat diungkapkan oleh Muhammad pada zamannya walaupun pada zaman Nuh hal itu sudah lumrah, artinya bukan suatu keistimewaan lagi.
Maka kini mulailah kami perlu pula memaparkan apa yang disebut dengan kata-kata : WA’MUR BIL MA’RUFI WAN HA’ANIL MUNGKARI, WASBIR ‘ALA MA ASOBAKA, INNA DHALIKA MIN ‘AZMILUMURI. Sebenarnya bukanlah hal yang mudah untuk dapat menafsirkan Qur’an sebagaimana mestinya, Cuma oleh sebab manusia harus pula berbuat dan bukan hanya menunggu-nunggu saja segala sesuatu datang sendiri maka sudahlah selayaknya ia berikhtiar yakni berbuat agar supaya apa yang dimau bisa terlaksana. Demikianlah perbedaan antara faham tingkat umat Muhammad dan Manusia sempurna atau INSAN KAMIL. Pada insan kamil maka sebenarnya ikhtiar itu sudah tidak ada lagi, melainkan sudah BENAR-BENAR ISLAM yakni Berserah diri bulat-bulat keseluruhannya. Jadi apa yang disebut dengan ayat tadi sudahlah tidak berlaku lagi kecuali manakala Tuhan mau yakni diperintahkan langsung kepadanya dengan seketika maka haruslah diperbuatnya suruh itu tanpa tangguh lagi dan tidak pula itu kemauannya sendiri melainkan kemauan Tuhan pula yang berkemauan dan yang berbuat sekali.
Sebenarnya Jiwa Muhammad adalah jiwa yang sudah lebih maju dari pada Jiwa MUSA yakni Jiwa manusia biasa yang masih menghendaki petunjuk yang sangat sederhana seumpama soal ujud atau rupa Allah, padahal Jiwa Muhammad sudah mengetahui bahwa tidaklah serupa dengan apa juapun. Walaupun begitu sewaktu Muhammad Mi’radj maka sebenarnya dia masih terkicuh oleh penglihatan jiwanya bahwa Tuhan adalah menyerupai cahaya yang sangat dahsyat yang mendekat dengan kehebatan yang bukan main. Maka iapun lantas tertiarap sujud tiada tahan lagi.
Demikianlah Jiwa Muhammad. Adapun Jiwa manusia sempurna lain lagi. Yakni jiwa yang bukan jiwa lagi melainkan sudah tingkat keTuhanan. Maka Jiwa ini sudah sanggup memperalat atau mempergunakan cahaya yang mendekat pada Muhammad yang sebenarnya masih cahaya dan belumlah Tuhan sendiri. Manakala manusia sudah sanggup mempergunakan cahaya ini maka iapun sudah merasuk KeTuhanan pula walau seberapa. Tetapi manakala belum sanggup maka sebenarnya kemanusiaannya belumlah tersedia untuk meningkat kepada tingkat KeTuhanan. Cahaya inilah yang kini perlu diperkembangkan guna membangun kehidupan yang agung yakni kehidupannya para manusia sempurna yang sudah sampai pada saatnya untuk kembali pada Tuhannya.
Cahaya inilah pula yang sekarang harus dipergunakan guna menerangi jalan hidup manusia dan bukan hanya akal fikiran dan perasaan biasa lagi, tapi ini adalah suatu mukjizat yang memang sudah sewajarnya sebagai perkembangan hidup kemanusiaan meningkat kepada hidup KeTuhanan yang harus segera merata di seluruh bumi hingga kemudian merembet ke Planit-planit yang lain di seluruh BIMA SAKTI.
Herankah anda andaikata ada manusia yang sanggup mengembara ke Planit lain maupun TATA SURYA lain bahkan GALAKSI yang lain dengan mempergunakan cahaya Tuhan tersebut ? Kini hal itu sudahlah sewajarnya sudah waktunya. Oleh sebab itu janganlah ayal lagi segeralah mempertinggi mutu iman anda pada Tuhan dengan cara BERSERAH DIRI KESELURUHANNYA dan jangan tanggung-tanggung seperti dahulu lagi, Jiwa Muhammad yang masih berhenti pada akhirat belum merasuk pada Tuhan sendiri.
Sebenarnya bukanlah hal yang aneh lagi bahwa kini manusia sudah sanggup pula bercengkerama ke alam yang lain-lain, KE ALAM MALAKUT, KE ALAM JABARUT, KE ALAM INAYAT bahkan sanggup pula KE ALAM MANAR yakni ALAM CAHAYA yang bukan lagi cahaya dunia dan akhirat melainkan sudah pula berlainan taraf.
Demikianlah keadaannya maka janganlah hendaknya anda mencoba menghambat kemauan Tuhan sehingga anda sendiri yang akan hancur lebur disiksa neraka yang panasnya melebihi matahari. Itupun neraka yang paling ringan, adapun yang paling berat tak lah sanggup manusia membayangkannya hanya harus mengalami sendiri baru dapat.
Pada waktu sekarang ini alam inayat itu sudah banyak pula yang sanggup menggapainya walaupun tepinya tetapi yang intinya adalah sangat jauh dari jangkauan manusia biasa. Jiwa Muhammad pernah juga mencicipi alam ini walaupun seberapa, tetapi belumlah sanggup merasuk kedalamnya sama sekali. ALAM INAYAT adalah perantara dari pada Alam dunia dan Alam akhirat tetapi berat kepada akhiratnya. Manakala Tuhan mau tiap manusia sanggup pula mencicipi alam ini, sebab tingkatnya belumlah sebegitu jauh sehingga siapa juga yang mau benar-benar bisa juga sampai. Inilah daerah yang paling gampang dijangkau oleh umat Muhammad dan dari sana gampang nanti meraih pula ke alam lain. Tetapi itu semua adalah sepanjang iradat Tuhan juga sebagaimana ikhtikad yang benar-benar berkata bahwa tak satupun yang ada melainkan Allah, sebenarnya yang ada hanyalah Tuhan sendiri. Ikhtikad ini adalah Ikhtikad manusia sempurna dimana Jiwa Muhammad belum sanggup. Jiwa Muhammad baru sanggup menggapai Alam Akhirat itupun belum seberapa tinggi, sehingga Muhammad sendiri pada saat ini baru sanggup mencapai tingkat yang KELIMA BELAS dari pada lapisan langit, tetapi para sahabatnya banyak juga yang malahan sudah lebih seperti ALI bin ABI THALIB sudah sampai ke tingkat 27 hampir sama dengan IBRAHIM, begitupun UMAR dan ABU BAKAR masing-masing di tingkat 22 dan 24. Barang siapa yang sanggup silakan menyatainya. Tetapi andaikata kami terangkan bahwa AISYAH sendiri yaitu isteri NABI berada pada lapis bumi yang ke 2 jangankan lapis langit, apakah anda bisa menerima ? Maka seyogyanyalah segera manusia bisa menyatakan alam kubur sehingga bisa tahu mutu jiwa yang sebenarnya dan bukan dikelabuhi oleh macam-macam tabir palsu yang menghambat pemandangan yang sejati.
Pada waktu manusia mati sebenarnya ia adalah masih hidup juga yakni kejiwaannya dan bukan keduniaannya. Keduniaannya sudah berganti rupa menjadi bangkai menjadi tanah atau apalagi, tetapi jiwanya tetap masih berada di alam ini juga, yakni alam jiwa dimana tidak ada hidup dan mati dan yang ada hanya mengalami tidak bisa mendebat lagi apapula merobahnya. Sedangpun di dunia ini seolah-olah manusia mempunyai kekuatan merobah atau menambah, yang sebenarnya hanya pengakuan saja, tetapi di alam kejiwaan maka sama sekali tak ada pengakuan itu yang ada hanya pengalaman paksa yang tak dapat disingkiri. Herankah anda andaikata ada jiwa manusia yang sewaktu hidupnya menjadi Raja tetapi serenta mati jiwanya melata-lata dalam pelimbahan seperti cacing. Seorang kere kurapan sewaktu hidupnya tetapi bareng mati menjadi raja diantara jiwa-jiwa yang sekian banyaknya.
Maka adalah cerita dahulu kala seorang perantau yang mati di ujung dunia maka matinya itu adalah suatu pertanda bahwa perjalannya sudah berakhir tetapi heran bahwa ia masih berjalan terus saja tiada berhenti walaupun sesaat. Ini adalah suatu misal saja dan buka cerita, tapi andaikata ada kejadian yang demikian itu adalah wajar. Oleh karenanya jiwa manusia itu adalah laksana intan, manakala selalu digosok sewaktu hidupnya maka setelah mati akan tambah berkilat dan digosok terus tiada henti-henti. Tetapi jiwa Bajingan bareng mati menjadi buaya dan bahkan tambah lagi makin merosot dikarenakan selalu makan bangkai. Manakala manusia sadar akan hal ini maka sudahlah selayaknya bahwa keadaannya akan bisa kembali bertambah baik dan bukan bertambah buruk.
Dikarenakan oleh hal-hal yang kurang perlu maka sebenarnya manusia seharusnya mengerti bahwa dirinya itu adalah Tuhan sendiri dengan arti kata yang sebenarnya. Maka apakah ia manusia ataukah Tuhan itu terletak faham itu yakni sudah kuat menerima atau belum. Andaikata belum suatu tanda bahwa memang belum kuat, tapi kalau sudah adalah berarti bahwa Tuhan memang sudah berkehendak demikian atasnya. Oleh karenanya maka iapun segera bangkit mengatur dan diatur dan tidaklah lagi membedakan suatu apapun di seluruh jagad ini yang semuanya dianggap sama saja yakni tidak ada dan yang ada hanya Tuhan sendiri yang sudah berkemauan begitu rupa sehingga kita tak bisa berbuat lain. Sebab segala perbuatan itupun adalah baku dari Tuhan semua. Maka apakah yang harus dituju di dalam hidup ini ? tak ada, kecuali hanya melenyapkan dirinya ke dalam Tuhan sekali agar supaya sempurna kejadiannya bukan hidup mati lagi dan bukan pula hanya keabadian. Tuhanlah juga yang menciptakan keabadian itu dan kuasa juga berbuat lain. Maka apakah alasannya bahwa manusia harus takut mengakui demikian ? Apakah abadi itu lebih kuasa dari pada Tuhan ? Apakah ada sifat Tuhan itu yang mengikat pada Nya ? Niscaya tidak, bahkan Tuhanlah yang mengikat segalanya dan bukanlah suatu kemustahilan andaikata manusia bisa juga berbuat seperti Tuhan ataupun Tuhan berbuat seperti manusia. Sebab sebenarnya semuanya ini tidak ada dan yang ada hanya Tuhan saja. Karenanya sama saja apa saja dan bagaimana jugapun.
Oleh sebab itu semua manusia mestilah segera menyadari akan hal ini sehingga seketika bisa meningkat menjadi lebih sempurna lagi. Andaikata belum sanggup janganlah berusaha memaksa diri nanti akan menjadi salah tuju sehingga bisa juga gagal apa yang dimau yakni yang dimau oleh Tuhan sendiri juga.
Apakah anda mengira bahwa Tuhan itu tidak kuasa gagal kemauannya ? Adalah keliru sekali fikiran anda andaikata demikian. Tuhan adalah segalanya, kegagalan, maupun kelangsungan sama saja baginya tiada lain. Oleh karenanya janganlah membatasi Tuhan pada hal-hal yang baik-baik saja. Lantas siapakah yang menciptakan hal yang buruk ? Adakah sendiri Tuhannya si keburukan ? Maka berfahamlah setepatnya agar jangan anda sesat setelah sekian lama hidup di dunia ini bahkan sudah berpuluh kali bahkan mungkin beratus beribu kali. Inilah dia faham yang lurus jujur dan tidak mengelak, menyeleweng maupun sesat. Oleh sebab itu turutilah ia seberapa dapat agar pula meningkat jiwa anda seberapa mungkin, syukur sanggup merasuk jantung Tuhan sendiri yang selalu dibukanya untuk setiap sesuatu bukan hanya manusia saja dan manusia adalah salah satunya yang terbaik untuk merasuk ke jantung Tuhan dikarenakan Tuhan sendiri yang berkehendak demikian. Andaikata ada yang berpendapat lain, maka pendapat itu adalah benar juga yakni sepanjang kemauan Tuhan dan bukan kemauan manusia itu sendiri sehingga sebenarnya manusia bukanlah manusia andaikata mempunyai faham sendiri. Demikianlah faham kami ini bukanlah kami yang menuntunnya melainkan Tuhan sendiri yang berbuat dan diperbuat juga perbuatan itu sendiri.
Demikianlah keadaannya. Andaikata ada yang hendak mendebat maka itu adalah kemauan Tuhan juga tiadalah perlu dilayani lagi. Siapakah yang bisa melawan Tuhan ? Maka sebenarnya Tuhanlah yang harus melawannya pula dan bukan kami. Disinilah letak rahasia itu. Oleh karenanya menjadi sulit dan rumit manakala belum tahu. Tapi andaikata sulit maupun rumit itu sudah dianggap tidak ada maka segeralah akan sampai pula faham itu kepada kesempurnaan dan tidak ada lagi hal-hal yang harus dipertengkarkan melainkan berjalan sendiri pada jalan yang sudah diatur oleh Tuhan dan bukanlah kami yang harus mengaturnya. Tapi andaikata kami mendapat perintah untuk mengatur yang diatur juga pengaturan dan peraturan itu sendiri adalah Tuhan semata. Maka jelaslah bahwa manusia tak bisa berbuat lain. Oleh karenanya janganlah mencoba menyangkal nanti bisa keliru. Tapi andaikata anda terpaksa menyangkal juga suatu tanda bahwa itu suatu kemauan Tuhan, serahkanlah kepada Tuhan sendiri dan nanti akan beres dengan sendirinya. Demikianlah rahasianya, hendaklah dimaklumi.
Kini selesailah sudah uraian tentang Jiwa Muhammad tingkat satu dan nanti akan kami lanjutkan pula pada tingkat yang kedua dimana manusi belum banyak yang sanggup mengalami apapula melebihinya. Bagi manusia sempurna sebenarnya tingkat-tingkat sudah harus tidak ada. Tapi andaikata toh harus ada maka sebenarnya itu adalah kemauan Tuhan juga, maka hendaklah kita bersandar diri jangan mengaku lagi agar supaya kekeliruan tiada diperbuat sehingga kepanjang-panjang menjadi lebih sesat lagi.
(bersambung ke Bagian 4)

Buku Jiwa Muhammad, bagian 2; Pengantar

23 Januari 2009

Sudahlah lazim bahwa manusia ini belumlah bisa menghilangkan ke akuan nya, yakni sesuatu yang sebenarnya tidak ada tetapi selalu mengganggu. Manakala disadari maka sebenarnyalah segera beres segala persoalan. Tetapi justru itulah maka AKU tadi tidak bisa lenyap-lenyap melainkan makin menjadi-jadi. Yakni mau membereskan soal-soal bahkan segala persoalan kepengin diatasinya, itulah dia AKU si manusia.

Untuk segala AKU-AKU inilah Muhammad diutus, yakni untuk manusia agar supaya mencontoh meneladan segala tidak tanduknya apa pula sanggup menyamai, itulah dia pilihan manusia yang sudah tinggi perikemanusiaannya sehingga sampai kepada Budi Luhur. Adapun Budi Luhur ini manakala diperkenankan sanggup juga menghadap Tuhan sendiri walaupun dari jauh, tapi itu adalah jarang sekali kejadian, dikarenakan memanglah hukum Tuhan tidaklah demikian, itu hanya suatu keistimewaan. Maka barang siapa yang sudah sanggup melewati daerah Budi Luhur, yakni daerah peri kemanusiaan yang paling tinggi, maka barulah sanggup masuk ke dalam daerah peri ke Tuhanan dan disanalah baru ada kesanggupan menerima wahyu yakni cahaya maupun kata kata dari Tuhan sendiri. Telah demikianlah pengadatan Tuhan hendaklah dimaklumi. Tapi manakala Tuhan mau yang bagaimanapun bisa jadi.

Di situlah letak kekuasaan Nya yang tidak berwatas bahkan yang membikin batas-batas. Andaikata manusia ini mau menyadari tentang kepalsuan AKU nya maka segera pula beres kedudukannya, yakni lenyapnya sang aku dan masuk ke dalam daerah kejiwaan dan masuk lagi ke daerah ke Tuhanan. Tetapi justru hilangnya sang aku inilah yang paling berat dari segala beban yang mesti ditanggung selama hidup.

Demikianlah misalnya kami menulis yang demikian ini bukanlah kemauan kami sendiri melainkan oleh sebab ke AKU an itu sudah tidak lagi ada maka malahan lebih baik lagi, tambah lenyap tambah baik sehingga hanya Tuhan sendiri sajalah yang berbuat tiada lain. Manakala manusia sudah menyadari yang demikian ini maka sebenarnya sudahlah pula masanya menerima wahyu sendiri yakni bahwa segala gerak geriknya sudah dari Tuhan semata, dikarenakan si AKU sudah tak ada lagi. Maka manakala sang aku itu masih bertengger terus, niscaya persoalan hidup tidak akan beres-beres melainkan makin menjadi banyak dan kusut. Tetapi manakala aku-aku tadi telah dilenyapkan dan kembali ke dalam Tuhan maka Tuhan sendirilah yang bekerja. Dan sudahlah selayaknya manakala Tuhan sendiri yang bekerja akan menjadi selesai persoalan itu sepanjang kemauan Tuhan lagi. Demikianlah sekali waktu Nabi Muhammad berserah diri benar-benar sehingga aku tadi lenyap maka masuklah ia ke dalam daerah peri Ke-Tuhanan dan sangguplah menerima wahyu sendiri yakni sewaktu Mi’rajd.

Sebenarnya Mi’rajd bukanlah soal yang mustahil pada waktu sekarang ini dikarenakan jiwa-jiwa manusia yang sudah cukup tua untuk bergabung dengan Tuhan sendiri dan memanglah masa Nabi atau Rasul sudah habis, kini bergantikan manusia sempurna atau INSAN KAMIL atau ADAM MA’RIFAT.

Maka sudahlah selayaknya manusia segera menyadari ini sehingga tiada ketinggalan lagi sesudah ketinggalan yang berlarut-larut yakni sejak jaman NUH sampai kini mengalami kemunduran yang amat. Maka mulai kini hendaklah segera bangkit kembali menuju langsung kepada Tuhan Nya dan janag menyimpang ke lain-lain. Dahulu pada zaman NUH itu kemanusiaan sudah begitu tinggi tingkatnya sehingga sudah sanggup pada umumnya berwawancara sendiri dengan Tuhan setidaknya mendapatkan isyarat. Tetapi kemajuan berfikir pada masa itu belum mengijinkan bagi manusia untuk terus tahan menderita percobaan-percobaan sehingga akhirnya hancurlah peradaban NUH itu sehingga punah sama sekali kecuali mana-mana yang dikehendaki Tuhan di satu saat akan timbul kembali. Telah demikianlah Tuhan bermau, tiadalah yang sanggup menghalangi.

Bagi manusia zaman sekarang dimana soal berfikir itu sudah menjadi keumuman maka sudahlah sampai tarafnya kepada sanggup memikirkan Tuhan sendiri. Maka pada masa kinilah manusia sempurna itu bangkit kembali dengan persediaan yang lebih teguh sehingga sanggup menanggulangi banjir. Itupun sepnajang kehendak Tuhan pula. Sebab manusia sempurna itu sudah tidak punya kemauan lagi kecuali hanya kemauan Tuhan semata-mata.

Kini lagi soal akhir jaman. Maka zaman itu kini sudah mulai berakhir dikarenakan sudah diketemukan hukum ruang, waktu begitupun hukum ADA. Ada ini hanayalah semacam hukum saja dari Tuhan. Maka barang siapa yang sudah menyadari itu dengan sendirinya alam inipun menjadi lenyap baginya hanya suatu hukum yang begitu rupa apapula ruang dan waktu begitu lagi tiada dayanya pula terhadapnya. Maka sudahlah sewajarnya bahwa perhatiannya hanya ditujukan kepada Tuhan yang menghukumkan segalanya ini juga perhatian itu sendiri. Jadi kesadaran itupun hanya hukum pula, maka lenyaplah kesadarannya yang biasa ini bergantikan kesadaran yang macam lain lebih tinggi tingkatnya menurut kadar kuatnya menyerahkan segalanya itu hanya kepada Tuhan saja. Sudahlah selayaknya bahwa bagi mereka itu zaman atau waktu sudah tidak lagi ada dan yang ada hanyalah yang membikinnya yakni Tuhan sendiri.

Manakala andapun sudah sanggup yang demikian maka sudah sendirinya alam bagi ada sudah lenyap dan akhir zaman pun sudah mulai. Jadi janganlah mempunyai anggapan yang seperti kanak-kanak lagi yakni menganggap bahwa segalanya ini akan lebur lantas menjadi puing yang tidak berguna.

Bukanlah demikian maksud Tuhan tetapi justru manusialah yang harus menyelamatkan Alam ini dari kehancurannya, bahkan ditingkatkan mutunya menjadi akhirat yang baik.

Janganlah mengira bahwa manusia tidak bisa, memanglah selama manusia itu masih manusia belumlah sanggup, tetapi manakala sudah sanggup kembali ke Tuhan yakni berserah diri benar-benar bukannya tanggung tanggung lagi maka segera cahaya Tuhanlah yang bekerja yakni wahyu yang akan menuntunnya lebih jauh maju merasuk jantung Tuhan sendiri sama sekali. Sudahlah selayaknya bahwa manusia sekarang ini mulai menyadari bahwa merekalah yang harus menjadi pewaris dari pada Tuhan yakni mewarisi Bumi ini kemudian merembet ke planit lain, Tata surya lain dan Bima Sakti lain sama sekali kemudian seluruh GALAKSI pun diambil alih pula. Telah demikianlah Tuhan berkehendak janganlah menghalangi nanti malahan lebur ke dalam api sehingga lama pula ketinggalan.

Sebenarnya umat Muhamad itu bisa maju kalau mau, tetapi kebanyakan pada berfikiran sempit, imannya masih belum tepat, masih memuja Nabi-Nabi yang sebenarnya sudah tidak perlu lagi. Puja puji itu hanya teruntuk bagi Alllah semata selaian itu menjadi musyrik. Kelak manakala telah sampai waktunya yakni manusia ini sanggup menjadi ADAM KHALIFAH maka memuja muji Tuhan pun sudah tidak perlu lagi, itu sudah kehendak Allah bahkan malahan para malaikat pun pada sujud kepadanya dan tak dapat lagi si Adam Khalifah tadi berpisah dengan Tuhannya sudah berpadu sama sekali.

Sudahlah menjadi keharusan mutu yang terutama bagi manusia mencapai tingkat itu yakni Adam Khalifah. Dahulu pada zaman Nuh pernah pula timbul Adam Khalifah ini tetapi persediaannya belumlah begitu kuat sehingga runtuh kembali. Tetapi kini jiwa-jiwa itu sudah cukup tua berpengalaman, maka sudahlah selayaknya akan lebih kuat dan lebih teguh. Oleh sebab itu janganlah ayal lagi umat Muhamad lah terutama yang harus mengambil peranan dalam hal ini, sebab memang Tuhan telah memilih yang demikian, yakni umat yang termasuk hidup semangatnya dari pada umat yang lain-lain yang masih suka membeku tak mau membuka mata, terpaut saja kepada yang dulu-dulu dan tidak mau melihat ke hari depan yakni akhirat yang mesti dituju yang harus dibentuk sendiri oleh amal perbuatan manusia.

Oleh karenanya janganlah ayal lagi tampillah ke depan dalam soal ini niscaya Tuhan memberi tuntunan dengan langsung. Karena sudahlah memang masanya demikian yakni pada waktu akhir zaman dimulai ketika manusia sudah sanggup langsung berhubungan dengan Tuhan sendiri. Oleh sebab itu segera akhirilah zamanmu sehingga Tuhan turun tangan dan bahkan Tuhan sendirilah yang akan bekerja dan bukanlah manusia lagi, sebab peri Kemanusiaan sudah sanggup meningkat dalam daerah peri Ketuhanan. Sudahlah demikian Tuhan bermau janganlah dihalangi nanti anda bisa terpental masuk ke dalam neraka.

Sebenarnya hidup ini gampang saja, yakni janganlah merasa ada, maka dengan sendirinya hanya Tuhanlah yang ada. Tetapi yang demikian itu amatlah beratnya sehingga jarang yang kuat. Oleh karenanya dari sedikitlah dahulu misalnya anda memahami tentang ada. ADA INI APA ?

Maka bahwa ada ini hanya semacam hukum saja dan Tuhan pun kuasa pula membikin macam hukum lain. TAHUKAH ANDA HUKUM ITU APA ? Hukum adalah paksaan. Jadi segalanya ini adalah paksaan dari Tuhan yang menghukumkan.

Maka sudahlah selayaknya manakala anda sudah menyadari yang demikian terus langsung saja menyandarkan segala kesadaran maupun yang disadari itu semuanya kepada Tuhan alias berserah diri.

Manakala itupun belum sanggup maka bisa juga demikian : Sadarilah dahulu bahwa kesadaran itu sendiri hanyalah hukum, yakni peraturan paksa yang begitu rupa yang dipaksakan oleh Tuhan. Segala alat-alat kesadaran itu yakni panca indera, akal pikiran maupun Budi sendiri adalah hukum yakni aturan paksa yang demikian tak bisa berbuat lain, begitupun yang disadari. Maka sudahlah selayaknya kesadaran itu lantas bisa menyadari bahwa kesadaran itu sendiri adalah hukum, aturan paksa, hanya alat dan bukan kemutlakan.

Andaikata sudah demikian kesadaran anda, itu sudah suatu tanda bahwa anda sudah mulai hidup, yakni hidup agung bukan hanya hidup yang kebalikan dari pada mati. Maka anda pun bisa juga sudah mengalami hal-hal yang keluar dari pada kebiasaan ini yakni misalnya ketemu dengan mereka yang telah mati, berwawancara dengan Kidir-Kidir maupun pengalaman yang lain-lain. Tapi itupun sebenarnya tidak mudah banyak lagi hal-hal liku-liku yang harus dijalaninya maka baru sampai kepada yang demikian atau lebih lagi, yakni terbuka tabir Tuhan itu sama sekali sehingga anda sanggup sudah berwawancara dengan Tuhan sendiri tanpa perantara yang lain-lain.

Sungguhlah suatu mu’jijat andaikata manusia ini sudah sanggup mencapai yang demikian, Tapi itupun masih belum seberapa, anda masih bisa sanggup mencapai kemajuan pula yang lain-lain sifatnya tak seorangpun yang sama.

Ada yang sanggup terbang tinggi ada pula yang rendah, adapula yang sanggup melesat ke tempat yang jauh maupun ke planit-planit lain sebagaimana pernah terjadi juga pada zaman dahulu, tapi kini akan lebih-lebih lagi. Maka sudahlah tidak menjadi rahasia lagi soal-soal yang tadinya masih tersembunyi walaupun di perut bumi maupun di atas langit maupun di alam alam lain yang tiada hitungan banyaknya. Semuanya bisa diketahuinya sekedar pemberian Tuhan yang tergantung pula dengan seberapa penyerahan kita.

Manakala manusia itu sanggup benar-benar berserah diri bulat-bulat maka segera pula akan sanggup menerima pangkat Khalifah yakni wakil Tuhan di jagad ini, dimana sanggup sudah berpadu dengan Tuhannya sehingga para malaikat terpaksa sujud kepadanya sebagaimana yang pernah pula disebut-sebut dalam Qur’an. Sebab ilmu wakil Tuhan tadi sudah tiada hingganya sehingga para malaikatpun terpaksa berguru minta tuntunan.

Telah demikianlah kehendak Tuhan janganlah mencoba menghalanginya nanti malahan terpelanting ke dalam neraka.

Apakah anda mengira neraka itu belum ada ? Janganlah segoblok itu benar. Neraka adalah di luar waktu, di luar belum dan sudah berada di alam keabadian yang tidak bermula dan tidak berakhir. Jadi manakala anda sudah menyatakan barulah menyadari tentang adanya, tapai manakala belum ya belumlah, begitu gampangnya. Tapi itupun tidak penting, adapun yang paling penting ialah soal iktikad anda sendiri.

Kebanyakan dari umat Muhammad itu iktikadnya masih keliru, kurang tepat sebagaimana yang diajarkan atau dicontohkan oleh Nabinya yaitu Muhamad, dikarenakan kurangnya pengertian dan hanya “a n u t g r u b y u k” yakni mengikut tanpa memikir, tanpa menyadari dan meneliti, sehingga tak ubahnya sebagai bangkai yang hanyut di kali. Nanti dulu, jangan marah nanti keliru lagi, anda menyembah nafsu bukannya Tuhan, maka sittanlah yang akan menguasai anda sebagaimana yang telah terjadi pula selama ini. Sebab masih keliru paham sittan dikira Tuhan , AKUnya sendiri yang ke depan dan Tuhan di belakang tertutup oleh AKUnya. Inilah dia kekeliruan yang umum terjadi di antara manusia, karena belum sanggup berserah diri malahan diri dibesarkan mengaku Tuhan tanpa menyadari. Disinilah letak pokok kekeliruan faham itu. Seharusnya melenyapkan aku itu ke dalam Tuhan yakni serah diri bukannya memperbesar diri, jadi malah terbalik. Oleh karenanya persoalan tidak segera menjadi beres malahan berlarut-larut, semuanya menganggap dirinya difihak Tuhan padahal bermusuhan, sungguh mengetawakan sekali.

Oleh karenanya janganlah sebagai anak kecil lagi yang selalu minta diloloh, dewasalah segera sehingga sanggup pula mengakhiri zaman anda, yakni zaman yang sudah sepantasnya dipupus sekian saja dan digantikan dengan masa kegemilangan akhirat yang tinggi. Itu semua bisa terlaksana manakala anda benar-benar berbakti yakni menyerahkan seluruh hidup-mati bahkan yang selainnya lagi yakni segalanya sama sekali kepada Tuhan dan jangan tanggung-tanggung lagi, nanti bisa berhenti di jalan. Memanglah JALAN LURUS ini teramat beratnya yakni jalan yang langsung menuju Tuhan, tapi manakala anda sudah sanggup maka sebenarnya taklah ada jalan lain yang lebih gampang serta segera sampai yakni sama sekali berserah diri dan itu cukup sudah. Tuhan akan segera menerima dengan cara masing-masingnya yakni tiada mesti sama pada tiap orangnya. Ada yang secara mengirim Nabi Kidir maupun Ruh-suci yang lainnya. Adapula yang langsung Tuhan sendiri itupun tergantung keadaan masing-masing pula sepanjang kemauan Tuhan lagi.Telah demikianlah Tuhan bermau maka barang siapa yang ragu-ragu niscaya ketinggalan lagi sesudah ketinggalan pula sekian lamanya yakni sejak banjir NUH. Kini lagi soal banjir, maka sebenarnya Tuhanpun berkehendak mengelam Bumi ini sebagaimana pada zaman NUH tempo hari, tetapi rupanya Tuhan pun kuasa pula merobah kehendak Nya. Sebab memang telah demikianlah kemauan Tuhan yakni memperlihatkan kepada manusia bahwa beliau itu kuasa, kuasa pula merobah takdir dan tak usah menyalahi hukum yang manapun, sebab hukum itu semuanya adalah bikinan Nya sendiri pula. Sebab segala sesuatu ini semua hanyalah hukum belaka, padahal hukum itu terserah kepada yang menghukumkan dan memang sebenarnya hukum itu sendiripun Dia pula tak lain. Sebab tak ada yang baku sedangkan yang baku hanya Tuhan saja, sedangpun yang lainnya tak ada semua kecuali hanya hukum yang demikian yakni tak ada, padahal tak ada itupun kebalikan dari ada yang mana ada tidak ada yang selainnya juga adalah bikinan Nya dan Dia sendiri pula.

Apakah anda merasa ada, maka teranglah bahwa itu musyrik menganggap ada selain Tuhan. Dari manakah anda ada ? Apakah ada itu sebenarnya. Maka kembalilah sendiri segala persoalan kepada Tuhan tiada lain.Telah demikianlah kemauan Tuhan maka kalau ada yang membantah itupun Tuhan lagi. Siapakah yang sanggup membantah Tuhan kecuali Tuhan sendiri. Maka kewajiban kami yang tak ada ini hanyalah berserah diri dan itu sudah mencukupi. Karena Tuhan sendirilah yang bekerja tiada lain, sedangpun kalau anda tidak berserah diri maka kekeliruanlah yang bekerja yakni nafsu anda yang sebenarnya Tuhan pula yakni Tuhan masih bermau anda mesti dibasuh dengan neraka.

Sudahlah menjadi kelaziman bahwa manusia ini senantiasa mau maju, tetapi manakala sudah saatnya maka sebenarnya maju maupun tidak itu sudah tidak diperdulikan lagi dan yang penting hanyalah berserah diri. Adapun suatu tingkat dimana diri itu sudah tidak ada, maka serah diri itu hanyalah merupakan kata-kata yang maknanya adalah bahwa menyerahkan ketiadaannya itulah. Sebab ada dan tidak ada sudah menjadi sama. Oleh karena menjadilah dalil dalam daerah Ketuhanan yang harus dilewati oleh siapa juga yang mau masuk yakni memahami bahwa : ada dan tidak ada itu sama, yakni sama sebagai hukum dari Tuhan yang harus difahamkan sebagai t i d a k a d a , sebab yang ada hanyalah Tuhan sendiri yang membikin ada dan Tidak ada itu dalam satu aturan hukum tertentu yaitu ada.

Sebenarnya tidaklah habis-habisnya kita bicarakan soal ini, tetapi yang terpenting di sini adalah bahwa kami mesti menuliskan hal-hal yang masih tersembunyi bagi pengertian umum umat Muhamad yakni penerangan tentang jiwa Muhamad yang sebenarnya belumlah pernah ada yang menerangkan. Kalau toh ada yang memahami itu hanya suatu kebetulan saja Tuhan berkehendak memberi pengetahuan kepada orang itu yakni mereka yang telah mendapatkan rahmat dapat berhubungan langsung dengan Tuhannya. Tetapi itu hanyalah untuk diri sendiri tetapi tidak bisa diumumkan kecuali manakala Tuhan mau yakni memerintahkan kepadanya untuk mengumumkannya. Adapun kami ini memang disuruh dan bahkan sama juga dengan yang menyuruh yakni Tuhan sendiri pula. Yang sudah berkehendak demikian yakni menuliskan buku guna penerangan kepada manusia pada umumnya dan umat Muhamad pada khususnya, dikarenakan memang sudah waktunya bahwa mereka itu harus sudah mulai mengetahui tentang Alam kejiwaan maupun Alam Arwah begitupun Alam Ketuhanan. Maka barang siapa yang tak mau menerima memanglah lebih baik jangan menerima lebih dahulu, nanti bisa “mereng” maupun terkena penyakit yang lain. Tetapi manakala sudah sanggup memanglah sudah sepantasnya dan demikianlah pengharapan Tuhan.

Apakah Tuhan itu tidak boleh kuasa mengharap? Sebenarnya Tuhan itu adalah pengharapan yang diharap maupun pengharapan itu sendiri. Jadi bagaimana ini ? Yah memang begitulah, yang tidak begitupun Tuhan juga. Nah kan gampang sekali. Tuhan itu segalanya dan segalanya adalah Tuhan.

Demikianlah Kaidah MANUSIA SEMPURNA yang sudah tinggi tingkatnya tak bisa lepas lagi dari Tuhan. Tak satupun yang ada kecuali hanya Tuhan dan sebenarnya yang ada hanyalah Tuhan sendiri. Barang siapa yang berkehendak lain itupun Tuhan juga tapi dalam taraf yang masih rendah, masih kepengin soal-soal yang sepele-sepele yang sebenarnya Tuhan yang sebenarnya Tuhan lagi, masih kepengin kepada yang kurang baik yang sebenarnyapun Tuhan pula. Maka apalah salahnya menjadi Tuhan yang baik dan kepengin kepada yang baik pula. Tetapi manakala belum kuat memanglah tidak mengapa. Demikianlah kehendak Tuhan juga. Barang siapa yang sanggup segeralah berserah diri benar-benar nanti segera mendapat tuntunan, tetapi manakala belum sanggup sebenarnya itupun kemauan Tuhan pula. Tak adalah yang bisa punya kemauan kecuali hanya Tuhan dan Tuhanlah pula sebenarnya kemauan itu. Nah, kan gampang lagi. Segalanya Tuhan dan Tuhan adalah segalanya.

Apakah anda masih akan tetap berada di luar Tuhan ? Itupun boleh apapula lagi. Tetapi amatlah ruginya dikarenakan sudah diperbolehkan masuk masih juga berada di luar, sedangkan di dalam tempat itu luas tak bertepi, bahkan barang siapa yang sudah mendapatkan cukup anugerah maka sanggup pula membikin tepi sendiri, misalnya kami menulis ini adalah semacam tepi pula, walaupun nampaknya hanya sepele yakni tak ada yang mesti dituliskan kecuali hanya Tuhan. Sebab Tuhan adalah dasar dari segalanya, tujuan dan yang menuju sekali sama saja tak ada bedanya. Apakah anda sudah maklum ? Maklum pun boleh tidak pun boleh lagi, itu adalah batas pula bagi anda dimana tak bisa berbuat lain kecuali hanya demikian itulah.

Kini lagi soal Rukh, yakni soal yang dilarang mengupasnya pada zaman Muhamad dulu, dikarenakan belum saatnya, saatnya ialah manakala akhir zaman telah tiba, maka kini akhir zaman itu sudah dimulai, kalau anda belum menerima itu namanya : Ketinggalan akhir zaman. Yah, tidak pula mengapa. Tetapi manakala tidak tahan lama-lama dalam neraka lebih baiklah segera akhiri zaman itu agar supaya segera beres semuanya.

Sebenarnya dikarenakan kemauan Tuhan juga maka neraka itu ada yang memang sebenarnya Dia sendiri juga. Apakah anda mengira ada yang bisa masuk ke dalamnya. Ya mesti saja, semuanya malahan bisa masuk andaikata Tuhan mau. Tetapi kemauan Tuhan adalah lain. Yang masuk ke dalam neraka itu hanyalah mereka yang masih membutuhkan pembersihan, sebab masih dilengketi oleh dosa dan noda yang mesti dibasuh lebih dahulu agar supaya dapat masuk kedalam surga dan kemudian sanggup pula terus menghadap Tuhan sendiri.

Adapun kami ini malahn sudah tidak sanggup keluar lagi dari Tuhan, jadi terpaksa dalam Tuhan terus. Ya apa boleh buat. Telah demikianlah Tuhan bermau kepada dirinya sendiri.

Apakah anda mengira Tuhan itu tak punya diri ? Tuhan adalah semuanya walaupun diri walaupun bukan. Maka dari itu segeralah lenyapkan diri itu ke dalam Tuhan, sehingga hanya Tuhan sajalah yang ada dan beres selesai sudah pulang kembali ke dalam Tuhan dan memang demikianlah tujuan hidup yakni kembali ke Tuhan.

Apakah anda mau kembali ke sittan ? Itupun boleh apalagi. Sebab sittan itupun Tuhan pula dalam bentuk yang lain, yakni gesitnya ingatan anda sendiri yang sebenarnya palsu, tapi oleh sebab selalu diperturutkan maka menjadi semakin berkuasalah ia sehingga bisa berkedudukan menjadi iblis. Telah demikianlah Tuhan membikin hukum apakah diterima atau tidak Tuhan tak ambil pusing, kecuali kalau Tuhan sedang kepengin pusing itupun kuasa juga. Apakah anda mengira Tuhan itu hanya berkeinginan kepada yang enak-enak saja Tuhan adalah sejatinya kebutuhan itu sendiri. Apakah enak apakah tidak enak sama saja. Karena manakala anda membeda-bedakannya sebenarnya belumlah sanggup merasuk kedalam Tuhan. Sebab semuanya adalah Dia sendiri juga. Jadi apakah enak, apakah tidak enak itu Tuhan juga, biarlah saja nanti niscaya mendapatkan karunia oleh ketabahan faham anda sehingga benar-benar bisa meningkat dari hukum dunia ini yang masih dibebat oleh enak dan tidak enak.Tetapi alam selanjutnya adalah lebih bermutu lagi enak dan tidak enaknya. Maka pilihlah yang enak disitu jangan di dunia ini. Inilah pilihan yang baik yakni memilih akhirat dari pada dunia. Demikianlah pula pilihan Muhammad. Jadi kalau anda memilih akhirat itu sudah lebih baik dari pada memilih dunia. Tapi manakala sudah sanggup pilihlah Tuhan sendiri saja, yakni yang membikin dunia maupun akhirat sekali. Sebab padanyalah pokoknya segala persoalan dan persoalan itu sendiri pula. Demikianlah maka dunia dan akhirat itu sendiripun menjadi tidak ada dan yang ada hanyalah Tuhan saja yakni sejatinya kebutuhan dan bukan yang lainnya walaupun akhirat yang tinggi.

Demikianlah keadaannya dan hendaklah difahami bahwa sebenarnya faham itu sendiripun dari Tuhan juga dan memang Tuhan sendiri pula tak lain. Oleh sebab itu sebenarnya teranglah sudah tak bisa kita keluar dari pada Tuhan, semuanya dalam genggamannya dan memang Dia sendiri pula yang sedang bersir demikian. Apakah anda mengira pengiraan anda itu buka Tuhan ? Dari manakah datangnya kira ? Dari alam fikiran ? Siapakah yang membikin alam fikiran ada ? Siapa pula yang membikin ada dan yang menyadarinya ? Nah kan jelas hanya Tuhan sendiri semuanya. Oleh sebab itu segeralah tepatkan faham anda hanya kepada Tuhan saja dan itu sudah mencukupi.

Apakah anda kepengin lagi menjadi umatnya Nabi Musa yakni Nabi untuk manusia biasa yang masih sangat rendah lagi martabat kemanusiaannya yakni serba benda atau serba terlihat mata. Maka segalanya harus bisa dibuktikan dengan mata dengan indera biasa ini walau Tuhan sekalipun. Tetapi kini memanglah demikian yakni Tuhan itu memang nyata dan juga tidak nyata, dengan lain kata yang lahir dan yang batin semuanya Tuhan.

Tetapi apakah pada waktu itu manusia sudah bisa menerima andaikata diberi pelajaran yang demikian ? Niscaya belum. Oleh sebab itu yang diajarkan oleh MUSA bahwa Tuhan itu tidak berujud, oleh sebab itu janganlah menyembah kepada ujud-ujud. Tetapi pada masa kini Tuhan itu berujud sudah yakni segalanya ini Tuhan semata sehingga yang bukan Tuhan sebenarnya Tuhan juga. Oleh karenanya tak satupun yang kuasa ada kecuali hanya Tuhan sendiri, maka ujud maupun bukan ujud menjadi sama saja, itu hanya aturan paksa dari Tuhan yang sedemikian dan memang sedemikian juga.

Apakah anda mau menyembah pohon, batu dan sebagainya lagi. Itu adalah pekerti salah dari pada umat yang dahulu-dahulu yang setaraf kemanusiaannya dengan umat Musa. Tetapi umat MUHAMMAD sudahlah lain lagi tarafnya. Otaknya sudah lebih encer, kecerdasannya sudah lebih maju, maka sudahlah jauh lebih tidak pantas lagi, sudah lebih maju daerah yang ditempuh oleh fikirannya, bahkan sanggup sudah memberi tauladan bagaimana mesti berbuat dan bukan hanya menurut saja seperti umat MUSA pada waktu itu yang sama sekali tidak mempunyai inisiatif, adapun amat tipis. Jadi sudah lain dengan manusia pada zaman MUHAMMAD apa pula masa kini. Maka sudahlah selayaknya bahwa ajaran-ajaran pada zaman MUSA itu sudah tidak bisa berlaku lagi sekarang sebab kemanusiaan manusia sudah lain. Demikianlah pula ajaran MUHAMMAD sudah pula mulai berakhir sejak akhir zaman itu bermula. Telah demikianlah pengadatan Tuhan, apakah ada yang bisa membantah.

Sebenarnya sudah bukan rahasia lagi tentang terjadinya Akhir-zaman itu kini. Sebab segala sesuatunya adalah hanya sepanjang hukum belaka yakni aturan paksa yang dipaksakan oleh Tuhan begitu rupa sehingga jelas benar kepalsuan segalanya ini.Pandangan mata, rabaan tubuh, perasaan hati, pendapat otak, itu semua lain tidak hanyalah aturan belaka dari Tuhan dan bukan kemutlakan. Manakala alat-alat itu diambil atau dirobah sedikit saja maka hasilnya sudah menjadi lain. Itulah sebabnya dunia ini MAYA atau PALSU, artinya hanya melekat pada tabir kesadaran biasa, manusia yang sebenarnya hanyalah suatu hukum atau aturan paksa yang demikian. Manakala anda belum sanggup itu memang suatu keterlaluan, tetapi tidaklah mengapa, sebab itu artinya Tuhan masih berkehendak demikian yakni anda belum sanggup memahami dan berkeadaan seperti biasanya, goblok terus.

Apalah daya kami yang tidak ada ini kecuali hanya menuruti perintah Tuhan terus, begini maupun begitu, bukan begini dan bukan begitu, yang selainnya dari semuanyapun Tuhan sanggup pula apalagi. Apakah anda mengira Tuhan itu kuasa saja terus ? Alangkah bodohnya anda berfikir sedemikian. Bahkan Tuhan itu adalah segalanya kuasa maupun bukan sama saja baginya dan tidak sudi dipenjara dalam satu kekuasaan yang tanpa batas. Kalau Tuhan mau membatasi kuasanyapun kuasa lagi. Apa pula tidak kuasa, lebih lagi kuasa. Nah, kan gampang sekali.

Andaikata pada saat ini masih ada yang berpendirian Tuhan ini hanya satu, itu suatu kegoblokan pula. Tuhanlah yang membikin hitungan dan alat penghitung, akal fikiran biasa ini. Apakah Tuhan mau masuk dalam hitungan maupun diluarnya itu terserah Dia pula, begitupun makan dan tidur apalagi beranak. Janganlah suka memenjaraka Tuhan dalam hitungan : satu, tak boleh beranak pinak, tak boleh menjadi banyak, mesti maha besar terus, tak bisa kuasa bermaha kecil, alangkah tololnya faham ini, tidak mau maju-maju malah membikin pagar sendiri. Memanglah itu bukannya suatu kesalahan melainkan suatu keterlaluan sebab sudah sekian lama berfikir bebas mengasah otak terus menerus, kenapa masih juga seperti anak kecil yang juga tidak mau dewasa, belum juga sanggup mengambil kesimpulan bahwa benar itu sama dengan salah, jauh itu sama dengan dekat, dulu itu sama dengan sekarang begitupun nanti, segalanya ini hanya hukum tergantung semata-mata kepada yang menghukumkan. Apakah mesti diterangkan lagi seluruh teorinya ? Baiklah membaca buku yang lainnya saja yang membahas khusus mengenai soal ini. Kini kami cukupkan sekian saja dulu, hanya manakala perlu nanti disinggung-singgung lagi disana sini.

Kini lagi soal JIWA MUHAMMAD yakni jiwa yang amat mudanya tetapi telah sanggup menemui Tuhannya walaupun hanya sebentar yakni sewaktu Mi”rajd. Itulah dia Nabi anutan manusia sampai AKHIR ZAMAN. Tapi sayang bahwa sampai sekarang belum ada yang sanggup meneladan setepatnya mendekatipun belum, bahkan banyak yang teledor dan malahan sesat keliru aham, jangankan melanjutkan maupun melebihi.

Memang ada juga beberapa orang yang sanggup sudah mendengar kata-kata Tuhan walaupun hanya sepatah dua, tapi itupun belum mencukupi sama sekali. Baru kali ini Tuhan mengirim petunjuk bagaimana caranya supaya manusia bisa langsung berhubungan dengan Tuhannya. Tuntunan itu sebenarnya sepele saja, yakni : janganlah merasa ada, kembalikanlah akumu kepada Tuhanmu, berserah dirilah bulat-bulat, janganlah punya keinginan lagi kecuali hanya Tuhan. Nah kan pendek sekali. Manakala itu sudah ditepati maka insya Allah mestilah sanggup berhubungan, itupun tergantung kepada kesungguh-sungguhan berserah diri itulah. Oleh karenanya barang siapa yang sanggup berserah diri sebenarnya sudahlah mencukupi. Hanya Tuhan saja yang ada yang bekerja padanya tiada lain. Maka segera selesai soal, yakni kembali ke Tuhan sebagaimana tujuan hidup yang benar bagi manusia dan itulah JALAN YANG LURUS yakni jalan yang hanya menuju kepada Tuhan saja.

Tetapi andaikata masih kurang mencukupi beberapa kata-kata tadi baiklah membaca buku-buku yang lainnya guna menambah gampang dan luasnya penerangan. Tetapi bagi siapa yang dikehendaki Tuhan walaupun tanpa membaca misalnya sanggup pula terbuka hijab, tetapi walaupun membaca seribu kali tidak juga sanggup pecah hijab itu. Demikianlah kekuasaan Tuhan. Tapi andaikata dibanding niscaya akan lebih jauh manfaatnya dikarenakan memang demikianlah kehendaknya yakni dengan cara membaca manusia sanggup terbuka. Tidak demikian halnya dengan membaca Qur’an maupun Injil, sebab kitab-kitab itu hanya untuk mengatur penghidupan dunia supaya tertib bisa baik dan jangan merosot ke neraka melainkan sedapat mungkin meningkatkan ke surga. Tapi untuk bertemu dengan Tuhan sendiri bukan itulah tuntunannya. Memang ada juga beberapa ayat dalam Al Qur’an yang tertuju kepada manusia sempurna tapi itu masih jauh dari mencukupi.Jadi janganlah ayal lagi meninggalkan kitab-kitab itu demi Tuhan sendiri dan bukan demi siapa-siapa, tapi itupun bagi mereka yang telah sanggup. Adapun yang belum janganlah sampai meninggalkan, turutilah seberapa kuat sehingga datang saatnya kesadaran itu timbul bahwa sudah tidak diperlukan lagi dan berbareng itu pula tuntunan dari Tuhan itu sendiri datang apakah via Kidir (CHIDIR) ataukah RUKH SUCI yang lain maupun Tuhan sendiri maupun cara yang lain. Tuhan tiada kurang cara jangankan yang demikian walaupun seluruh alam-alam yang ribuan jumlahnya itu, sekaligus bisa dikendalikannya, sebab memang demikianlah pengadatan Tuhan, maka barang siapa yang menolaknya niscaya tertolak benar-benar tak sanggup lagi mendekati Tuhannya jangankan menghadap maupun masuk bahkan terpelanting ke dalam neraka. Telah demikianlah hukum pengadatan Tuhan janganlah dibantahnya nanti menjadi lebih keliru lagi, nafsu dianggap Tuhan maka rusaklah iman itu dan keras lagi membesarlah sang aku sehingga mesti dilebur dulu dengan api neraka. Telah demikianlah pengadatan Tuhan sejak dahulu kala yakni barang siapa yang membandel tak mau ditunjuki bahkan membangkang memperbesar diri bukannya berserah, maka niscaya terlempar ke dalam neraka.

Demikianlah maka kami sendiri pernah mengalami pada masa dahulu waktu manusia masih sedikit jumlahnya yakni sebelum zaman Idris, maka terpaksa pula dibasuh dengan api neraka. Tetapi demi kehendak Tuhan pula serenta cukup jangkanya pembersihan itu kamipun dikehendakkan timbul lagi hidup di dunia ini berkali-kali sehingga sanggup pula menjadi manusia yang baik bahkan kinasih dengan Tuhan. Demikianlah maka rukh kami diberi gelar oleh Tuhan sebagai Rukh Suci yakni rukh yang sudah disucikan oleh api neraka, kemudian sanggup kembali kepada Tuhan dengan patuh. Telah demikianlah Tuhan bermau, apa boleh buat. ( Bacalah : RUKH SUCI ).

Tetapi kini ada hal lagi yang mesti diperhatikan yakni mengenai Rukh Suci yang sebenarnya bukanlah kami sendiri melainkan banyak sekali, beribu-ribu kawan kami, kami ini hanya salah satunya yang sudah terpilih sebab kemauan Tuhan sendiri juga, dikarenakan kesungguh-sungguhan kami untuk kembali ke hanya Tuhan, maka sejak Akhir zaman dimulai maka kami sebagai Rukh Suci sanggup sudah berpadu dengan jiwa yang lain-lain bersama-sama berpadu ke dalam Tuhan. Maka demikianlah Tuhan sudah mengangkat kami sebagai wakil Nya, guna mengembalikan segalanya ini hanya kepada Tuhan saja. Telah demikianlah Tuhan bermau, tiada satu jua yang sanggup menghalangi kecuali hanya Tuhan sendiri pula. Maka sudahlah selayaknya kami yang memang tidak ada ini selalu bersembunyi yakni dalam jantung Tuhan sendiri agar supaya terlindung dari marabahaya. Maka barang siapa yang berniat jahat kepada kami maka sebenarnya kami ini tidak ada jadi hanya Tuhanlah yang kena kejahatan itu, padahal sepanjang faham kami tak ada satupun yang ada kecuali hanya Allah, maka sebenarnya segala kejahatan itu juga tidak ada, begitupun kebaikan semuanya sama saja tak ada semua sedangpun yang ada hanyalah Tuhan sendiri yang sedang bersir demikian.

Jadi apakah hendak dikata kalau andaikata misalnya sebelum anda membaca ini sudah lebih dulu membenci kami tapi kemudian serenta sudah membacanya menjadi berganti sayang, itupun kemauan Tuhan juga yang sdang berkehendak demikian dan bukanlah pekerti kita. Kita ini semuanya menyengaja ada juga tidak begini begitupun apalagi, begitupun seluruh alam ini tak ada yang menyengaja ada bahkan keadaannya maupun segala hukum-hukumnya itu adalah suatu hukum pula dari Tuhan tiada lain. Maka sudahlah sepantasnya segalanya ini segera kembali atau dikembalikan kedalam Tuhan sehingga bereslah semuanya.

Apakah anda sudah bisa menerima maksud kami ? Andaikata belum itupun tidak mengapa, karena kami ini mengertipun tidak. Bagaimana bisa mengerti sedangpun ada saja tidak. Oleh sebab itu lenyapkanlah pengertian itu sendiri ke dalam Tuhan, dipulangkan kembali maka selesailah segala pemikiran dipikirkan oleh Tuhan sendiri yang membikinnya demikian.

Manakala anda belum juga maklum maka sebenarnya baiklah hentikan saja membaca buku ini dan perbuatlah mana suka kemudian matilah masuk ke dalam neraka habis. Nah, disinilah anda tahu rasa bahwa sebenarnya segala macam “tetek bengek” di dunia ini tak ada harganya sama sekali kecuali hanya mesti dikembalikan kepada Tuhan semata. Bagi kami neraka itu sudah tidak ada sudah kami kembalikan ke dalam Tuhan begitupun surga begitupun alam-alam yang lain-lain itu yang memang semuanya sengaja diadakan bagi mereka yang masih menganggap ada. Maka bacalah buku alam-alam itu barangkali juga dari sana anda mendapatkan petunjuk terutama ALAM KUBUR maupun ALAM SEJATI, sehingga nanti mengertilah anda bahwa hidup di dunia ini palsu dan ALAM KUBUR itu lebih sejati begitupun seterusnya.

Tetapi andaikata tiada demikian halnya maka kamipun hanya berserah diri. Apakah daya kami yang tak ada ini kecuali hanya mendekam dalam Tuhan sujud terus hingga datang saatnya yakni sepanjang kemauan Tuhan sendiri tak usah bersujud lagi sebab berpadu sudah tak berpisah sama sekali. Maka manakah yang makhluk manakah yang khalik tiada lagi dapat dipisahkan, pada masa itulah sujud itu tidak perlu lagi sebab yang disembah dan yang menyembah sudah sama, satu padu. Apa mau dikata kalau memang Tuhan sendiri yang berkehendak demikian. Oleh sebab itu janganlah marah lagi kalau melihat orang yang tidak sembahyang, serahkanlah kepada Tuhan saja jangan diambil pusing nanti anda pusing sendiri. Sebab kini sudahlah masanya yang demikian itu yakni manusia-manusia yang sudah sanggup kembali di dalam Tuhan tidak lagi merasa hidup di dunia maupun akhirat maupun alam-alam yang lain-lain. Kadang ada pula yang masih demikian yakni nampaknya masih hidup di dunia tapi sebenarnya sudah di surga yang tinggi. Dan ada pula yang merasa hidup enak sekali di dunia padahal sebenarnya neraka yang sengit, disadarinya serenta sudah mati. Demikianlah keadaannya, hendaklah dimaklumi.

Kini lagi soal harta benda manakala masih dianggap ada itu suatu tanda anda masih terpaut oleh hukum dunia maka bersegeralah kikis habis-habis yakni dengan jalan mengembalikan segalanya itu ke dalam Tuhan, maka segeralah anda maklumi bahwa segalanya ini Tuhan dan Tuhan lah segalanya, sebab dan akibatnya sekali juga yang membikin hukum keduanya. Maka tiadalah lagi anda berikhtiar di dalam dunia ini melainkan benar-benar berserah diri sehingga hanya Tuhanlah yang berikhtiar dan bukan anda lagi. Apakah Tuhan tidak kuasa berikhtiar? Itupun terserah Tuhan lagi, apakah mau berikhtiar atau tidak tak perlu diambil pusing, kewajiban kita hanya berserah diri bulat-bulat kepada Nya dan itu sudah mencukupi. Manakala ada yang mati di dalam berserah diri ini maka janganlah dikira itu mati, melainkan tambah hidup, lebih hidup dari pada hidup biasa ini. Tapi yang demikian ini tiadalah pernah terjadi walupun Tuhan berkuasa. Bahkan Tuhan selalu menunjuki bagaimana mesti berbuat kepada mereka yang benar-benar berserah diri itu. Dengan tiada tuntunan ini maka sebenarnya adalah suatu kemustahilan dikarenakan Tuhan semuanya yang menjadikan kenapa tidak memberi rejeki. Maka sudahlah sepantasnya jangan lagi berikhtiar, berikhtiar itu masih tingkatan sittan, yakni gesitnya ingatan yang merasa dirinya ada dan mau berbuat sesuatu supaya begini dan begitu. Jadi belumlah tingkat ISLAM atau SERAH DIRI.

Adapun umat MUHAMMAD itu adalah umat yang tanggung-tanggung, dikarenakan belum kuat berserah diri benar maka diambilnya jalan tengah yakni berikhtiar atas dasar serah diri. Inipun baik juga andaikata ditepati janganlah mengada-ada, nanti keliru lagi yakni misalnya demikian : Kita sedang lapar makanan tak ada maka dengan sendirinya kita pergi mencari dimana ada. Tetapi serenta menemukannya makanan sedikit, kita tak mau maunya yang banyak dan enak-enak. Ini adalah sudah mengada-ada. Maka hendaklah menerima apa adanya seberapa butuhnya jangan berlebih. Janganlah lagi suka menimbun, itu adalah sittan, khawatir kalau kekurangan, maka hendaklah selesaikan buat hari ini atau esok dan janganlah menunggu-nunggu mengharap-harap, itu kurang iman namanya. Serahkanlah keseluruhannya kepada Tuhan jangan tanggung-tanggung, maka niscaya segera mendapatkan ampunan, yakni dengan cara terbuka hijab dan mendapat tuntunan langsung dari Tuhan. Manakala tiada demikian halnya sebenarnya belumlah masanya anda berbuat demikian, mungkin lama juga, tetapi kesungguh-sungguhan itu adalah perlu sekali, dikarenakan siapa yang tiada berusaha niscaya tiada akan sampai.

Sebenarnya tiadalah lagi yang hendak kami utarakan di sini, sebab pokoknya sudahlah jelas yakni kembali ke Tuhan, tetapi oleh sebab kembali dengan langsung itu adalah sangat beratnya maka Tuhan mengutus MUHAMMAD untuk memberi contoh yakni sebagai manusia teladan dengan contoh yang paling baik dengan budi yang paling luhur untuk menuntun kepada manusia bagaimana caranya bisa selamat kembali kepada Tuhan yakni dengan cara via akhirat lebih dahulu. Jadi tidak terus langsung merasuk Tuhan sendiri.

Adapun sebabnya yalah oleh karena dengan terus langsung itu masih sangat mengkhawatirkan pada masa itu, lain dengan sekarang. Oleh karena itu pada masa sekarang ini yakni pada zaman sudah mulai berakhir maka disitulah waktu setepatnya guna kembali ke Tuhan dengan langsung tanpa mampir-mampir lagi walaupun akhirat. Tetapi andaikata itupun belum sanggup pula pada masa sekarang ini tidaklah mengapa berusaha secara Muhamad yakni via akhirat kemudian dilanjutkan nanti. Begitupun MUHAMMAD sendiri pada waktu ini masih berhenti pada lapis langit yang ke LIMA BELAS dimana ia pernah Mi”rajd dahulu, yang bisa disebutnya pula sebagai SIDRATIL MUNTAHA yakni daerah yang paling jauh yang sudah bisa dicapai sehingga sanggup sudah berwawancara dengan Tuhan sendiri menerima perintah SALAT atau sujud kalau sudah sanggup. Tetapi sebagaimana Tuhan pun bermau Muhammad belum sanggup sujud yakni berserah diri bulat-bulat dikarenakan memang belum masanya kecuali manakala nanti sudah lahir kembali baru dapat yakni berpadu pada Tuhannya. Oleh sebab Muhammad belum sanggup berserah diri bulat-bulat atau sujud maka adalah peraturannya masih sama dengan umat yang sebelumnya yakni umat ISA atau MUSA. Adapun umat IBRAHIM itu sudah agak lain lagi. Dikarenakan IBRAHIM itu boleh dikata hampir sendirian hanya sekeluarga dan tak mempunyai umat maka sudahlah selayaknya lain pula peraturan yang dibawanya yakni hanya seolah-olah mementingkan keluarga saja. Maka janganlah heran andaikata IBRAHIM itu tidak mempunyai pegangan kitab kecuali hanya kitab kuno sejak zaman NUH yang diterimanya dari malaikat agar supaya disimpannya sebab akan berguna di kemudian hari. Adapun IBRAHIM sendiri tidaklah pula mengerti akan isi kitab itu dikarenakan bahasanya begitupun tingkatan kecerdasannya belum pula sanggup menerimanya andaikata toh mengerti. Tetapi walaupun begitu sebenarnya Ibrahim sudahlah pula menjalani apa isi kitab itu walaupun seberapa (bacalah wahyu Ibrahim). Sampai sekarang kitab itu belum dijumpakan lagi. Tetapi manakala Tuhan mau maka dalam tempo yang tidak lama lagi niscaya Mashaf Ibrahim inipun diketemukan pula kembali sebab kemauan Tuhan juga agar supaya terang mana yang masih gelap. Tapi bagi kami yang sudah tidak memperbedakan lagi segalanya sebab semuanya Tuhan juga maka tiadalah masuk dalam perhatian kami apakah mashaf itu ketemu atau tidak, bukan menjadi gangguan iman kami. Oleh karenanya barang siapa yang sudah sanggup janganlah memecah belah pengharapan maupun keinginan itu kecuali hanya kepada Tuhan semata. Demikianlah faham yang tepat, jalan yang lurus. Tetapi manakala belum kuat demikian maka tidaklah mengapa dari sedikit ke sedikit, sebagaimana Muhammad sudah memberi contoh, yakni capailah akhirat setinggi mungkin maka nanti gampang melanjutkan lagi. Walaupun kini anda misalnya masih berada dalam taraf kebanyakan dari manusia yang masih mementingkan dunia tapi manakala telah sanggup meningkat tiadalah pula akan kalah dengan mereka yang sudah terdahulu dikarenakan persediaan anda adalah lebih banyak dengan segala sesuatu yang mesti dikembalikan kepada Tuhan.

Sebenarnya kamipun sudah pula merasa bosan menulis begini saja terus, kembali ke Tuhan – kembali ke Tuhan. Tetapi bagaimana lagi tangan ini menulis juga terus tak mau berhenti, manakala ia berhenti maka sebenarnya itupun kemauan Tuhan juga yakni berhenti artinya tulisan ini mandeg macet tak dilanjutkan lagi. Tetapi siapakah yang rugi andaikata demikian ? Yah, memang Tuhan sendiri juga. Yakni manusia-manusia yang pada kebingungan tak tahu jalan terus, bagaimana mestinya hidup ini, sudah menyembah Tuhan sejak masih kecil sampai tua tak juga pernah ketemu apapula diajak ngobrol, alangkah celakanya hidup yang demikian itu hanya bertepuk sebelah tangan terus. Apakah tidak perlu yang demikian itu diakhiri. Maka sudahlah sepantasnya manakala segera sadar dan bangkit kesungguh-sungguhan manusia untuk bisa menemui Tuhannya. Demikianlah pengharapan kami. Tapi manakala tak pada mau, yah itu kemauan Tuhan juga, yakni Tuhan masih bermau manusia tetap manusia tak mau meningkat kepada ke Tuhanan, maka dunialah tempatnya selalu ditipu dan dipermainkan oleh sittan dan iblis pula Jin-Jin yang amat banyak macamnya hasil perbuatan manusia sendiri. Maka sudahlah selayaknya manakala segera disadari bahwa dunia ini mesti dianggap palsu, jangan dipercaya lagi, nanti salah iktikad itu tidak lurus-lurus malahan gampang menyeleweng ke alam sesat. Demikianlah keadaannya hendaklah dimaklumi.

Kini lagi soal Jiwa Muhamad. Tuhan berkehendak memberi penerangan kepada manusia terutama umat Muhamad, bahwa Jiwa Muhamad itu belum sanggup merasuk Tuhan sendiri, tingkatnya masih UTUSAN belum KHALIFAH. Oleh sebab itu hendaklah difahami bahwa sebenarnya tingkat itu sekarang sudah tidak perlu lagi walaupun Nabi walaupun Malaikat. Tapi kalau belum bisa biarlah yang bisa lebih dahulu janganlah dihalangi janganlah diharu biru sebab mereka itu lurus ikhtikadnya, percaya hanya kepada Tuhan sendiri dan tidak menyeleweng kepada yang selainnya walaupun Nabi walaupun apa juga.

Itulah dia jalan yang lurus, tepat dan cepat sampai. Tapi kalau anda masih belum bisa juga mengerti itu memang suatu keterlaluan juga, masih senang kepada yang sepele-sepele, masih takut kepada yang selain Tuhan, jadi masih musyrik sebenarnya tapi tidak menyadari.

Andaikata segera langsung kepada Tuhan saja maka sebenarnya sudahlah mencukupi, tetapi kebanyakan masih tersangkut-sangkut kepada lain-lain kepercayaan terutama DUIT, HARTA BENDA, DUNIA, PANGKAT, KEMEWAHAN, WAH, entah apalagi, sedangpun seharusnya kepercayaan kepada Nabi, akhirat, takdir, Malaikat disudahi sebab itu sudah termasuk musyrik bagi imannya manusia sempurna, tetapi malahan mereka itu semakin takut kepada ketinggalan dunia, padahal sebenarnya harus dunia ini ditinggalkan dan akhirat sekalipun. Jadi amatlah sesat sebenarnya faham umat Muhammad selama ini, lebih mundur dari pada zaman Nabi, tetapi memang dibanding dengan umat yang lainnya masih tergolong maju. Itulah sebabnya Tuhan memilih sebagai umat pertama yang harus tampil ke depan menghadap hanya kepada Tuhan sendiri (AWWALUL MUSLIMIN) , jangan takut kepada yang lainnya walau Nabi, nanti malahan mundur kembali tak sampai-sampai kepada Tuhan.

(Bersambung ke Bagian 3)

Buku Jiwa Muhammad, bagian 1: Awalan

23 Januari 2009

Buku Jiwa Muhammad ini sebenarnya belumlah mencukupi kebutuhan, tetapi oleh sebab Tuhan berkehendak lain maka sebenarnya hanya kehendak Tuhan sajalah yang berlaku. Tetapi andaikata nanti ada pula buku yang lain yang mengenai soal Muhammad maupun yang bersangkut paut dengannya, maka sebenarnya adalah lebih baik lagi. Dikarenakan fikiran manusia yang lagi mengembang maka sebenarnya kesempurnaan itu belumlah dicapainya kecuali manakala telah sanggup menembus Tuhan sendiri, yakni fikiran itu sendiri sudah menjadi hapus dan digantikan dengan cahaya Tuhan yang masih bertaraf taraf pula. Maka alangkah luas lagi dalamnya ilmu Tuhan itu bila digali, tetapi kini memang sudah seharusnya, yakni sejak akhir jaman ini tiba maka segala sesuatunya mestilah dipulangkan ke Tuhan sehingga bukan hanya ilmu Tuhan saja yang bekerja tanpa henti melainkan memang sudah seharusnya Tuhan sendiri pula. Karenanya manakala nanti wahyupun menjadi kurang berharga lagi maka itupun sepanjang iradat Tuhan juga bahwa kata-kata Tuhan saja belum cukup maka Tuhan sendirilah yang bekerja.

wahyu rustamaji

23 Januari 2009

Rustamaji adalah seorang seniman asal Klaten Jawa Tengah. Beliau meninggal dunia sekitar tahun 2002(saya lupa), dengan meninggalkan banyak karya lukis naturalis. Beliau juga meninggalkan beberapa buku dalam bahasa indonesia maupun bahasa jawa. Melalui Blog ini kami berupaya mempublikasikan tulisan-tulisan Rustamaji yang kami punya.
Harapan kami bila ada pembaca yang memiliki atau menemukan buku Rustamaji, mohon bantu kami melengkapi publikasi ini.

Hello world!

23 Januari 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!